Mencairkan Cek Kebahagiaan

Ini adalah ungkapan perasaan saya pada seseorang suatu saat:

“I wished for one hundred

God gave me one thousand

I wished for one thousand

God gave me 1 million

I wished for happiness

God gave me you”

Saat itu bagi saya, memiliki sang “You” adalah lebih dari sekedar kebahagiaan. Tapi kenyataannya saya tidak selalu bahagia memiliki sesuatu yang lebih dari kebahagiaan itu sendiri. ¬†Saya meminta seratus, tapi saya diberi seribu. belum tentu saya bahagia, karena mungkin saya lebih butuh seratus karena saya tidak mampu menampung seribu. Saat saya tersesat kehausan di desa terpencil, pasti saya lebih membutuhkan uang seribu rupian untuk membeli air mineral, ketimbang cek senilai satu juta rupiah. Tentu saya bodoh kalau mau menukar cek satu juta rupiah dengan selembar ribuan rupiah. Begitu juga saya menukar sang “You” dengan seseorang yang mungkin bisa saya sebut sang “kebahagiaan”. Tapi semua itu bisa terwujud kalau saja cek satu juta rupiah tersebut bisa saya cairkan. caranya? mudah, saya ke kota dan mencari BANK. tapi bagaimana saya mencairkan sang “You”????

If you want happiness for an hour – take a nap. If you want happiness for a day – go fishing. If you want happiness for a month – get married. If you want happiness for a year – inherit a fortune. If you want happiness for a lifetime – help someone else.

Chinese Proverb

Cara Kreatif Menyalurkan Patah Hati :)

Seorang suami yang patah hati ditinggal sang istri, menyalurkan sakit hatinya dengan memanfaatkan baju pengantin bekas istrinya untuk hal-hal lucu & aneh, yang dia ceritain di blog ini. mulai dari alas latihan yoga sampe jadi penyaring kopi & skipping untuk lompat tali. Dia bertekad menemukan 101 cara memanfaatkan gaun tersebut. sampai sekarang baru 22 cara, kita juga bisa nyumbang ide lho kira-kira gaunya mau diapain lagi.

Cara Kreatif Menyalurkan Patah Hati ūüôā

Ternyata Cinta Sejati Bukan Cuma Ada di Film

Hari ini, atau tepatnya kemarin-karena sepertinya waktu sudah lewat pukul 12 malam, media massa dipenuhi berita meninggalnya istri presiden ketiga kita, BJ Habibie. Ibu Hasri Ainun Habibie meninggal dunia di usianya yang ke 73 setelah 2 bulan tergolek koma di salah satu rumah sakit di Jerman.

Sebetulnya saya cukup mengikuti berita tentang beliau menjelang kematiannya, tetapi perhatian saya baru benar-benar tercuri saat banyak membaca tentang perjalanan cinta almarhum dengan sang suami. Bahkan, topik tentang kisah cinta pasangan yang sudah membina rumah tangga selama 48 tahun ini sempat menjadi trending topic di twitter.

Setelah membaca beberapa artilkel di internet, saya sangat tersentuh dengan kisah cinta mereka.  Apalagi melihat foto-foto yang menunjukkan kesetiaan Pak Habibie menjaga sang istri selama 2 bulan tinggal di rumah sakit. Menurut salah satu artikel, Pak Habibie bahkan tidak mau meninggalkan rumah sakit sekalipun.

 mendampingi di saat-saat terakhir

Ternyata Pak Habibie dan Ibu Ainun sudah saling mengenal sejak kecil, saat mereka tinggal berdekatan di Bandung. Mereka bahkan pernah satu sekolah saat SMA, hanya Pak Habibie satu angkatan di atas Ainun. Saat SMA mereka cukup dekat dan Habibie sering meledek Ainun dengan sebutan “Si Manis Gula Jawa” karena kulit Ainun yang kecoklatan akibat hobinya berenang.

Tahun 1954, Habibie lulus SMA dan melanjutkan ke Universitas Indonesia Bandung (sekarang ITB), kemudian mendapat beasiswa ke Jerman. Setahun kemudian Ainun melanjutkan kuliah ke FKUI. Setelah 7 tahun berpisah, akhirnya mereka bertemu saat Habibie telah berhasil mendapat gelasr sarjananya di Jerman dan Ainun telah bekerja di RSCM. Si manis gula merah, sudah berubah menjadi gula pasir. Cinta merekapun bersemi kembali. Apalagi setelah Habibie tinggal di Jakarta bersama salah satu  kerabatnya. Ia bisa semakin dekat dengan Ainun, menjemputnya ke tempat kerja menaiki becak menjadi kegiatan rutin mereka saat berpacaran. Akhirnya mereka menikah 12 Mei 1962 setelah dua bulan bertunangan.

Selama 48 tahun mendampingi Pak Habibie, ibu Ainun adalah sosok istri yang selalu memberi dukungan positif untk sang suami. Mulai dari mendampingi belaiu belajar d Jerman, sampai menjadi Ibu Negara. Ibu Ainin adalah orang yang paling mengerti, apa yang dibutuhkan sang suami, makanan apa yang bisa ia makan, dan kapan saatnya beristirahat dari pekerjaan yang menumpuk. Beliau selalu setia mendampingi saat sang suami menghadapi berbagai masalah negara.

Pak Habibie dan Ibu Ainun dikenal sebagai pasangan yang romantis, bahkan banyak pejabat negara yang terisnpirasi dari pasangan dengan dua anak ini. Pak Habibie tidak pernah lupa memberi perhatian kecil pada sang istri, meskipun hanya saling berpegangan tangan saat berapa di mobil atau saat tidur.

“12 Mei 1962 kami dinikahkan. Bibit cinta abadi dititipkan di hati kamu dan hati saya, pemiliknya Allah. Cinta yang abadi dan sempurna. Kamu dan saya, sepanjang masa. Nikmatnya dipatri dalam segala-galanya, satu batin dan perasaanya,” begitulah ungkapan Bapak Habibie tentang kisah cintanya dengan Ibu Ainun.

Dari kisah mereka saya banyak belajar tentang arti kesetiaan. saya sangat terharu, meihat kesetiaan Pak Habibie mendampingi sang istri yang terbaring koma selama berbulan-bulan. Bahkan saat jenazahnya dibawa ke Indonesia, beliau tidak pernah mau jauh dari peti jenazah.

Ibu Ainun saat masih sehat

Adrian Martadinata: “Perempuan Cuma Ingin Dimengerti”

Semalam saya sempet nonton sebuah gigs di FX Music bareng crew MD Radio. Sebenarnya ada ¬†performer lain yang pengen saya liat, tapi karena terlambat kita cuma sempet nonton 2 performer, salah satunya Adrian Martadinata yang perform terakhir. Sebelum menyanyikan lagu terakhir, “Ajari Aku” Adrian sempet nanya ke beberapa penonton paling depan, yang kebanyakan cewek, “siapa diantara kalian yang punya pacar?” beberapa cewek terus mengangkat tangan. “Siapa yang belum punya pacar?” cewek-cewek yang sebelumnya angkat tangan sekarang menurunkan tangan dan cewek-cewek lainnya mengangkat tangan. ¬†

“Siapapun yang punya pacar, atau pernah punya pacar pasti pernah berantem kan?” tanya Adrian lagi. Serempak cewek-cewek itu mengangguk. Adrian melanjutkan pertanyaan, “Berantemnya karena apa?” yang langusng dia sambung dengan pernyataan sebelum cewek-cewek itu sempat menjawab “Pasti kalau berantem kebanyakan cowoknya yang salah kan? Bukan karena apa-apa, tapi karena cowok itu dianggap gak mengerti si cewek.” Yup, pernyataan tersebut berhasil membuat cewek-cewek mengangguk sambil tersenyum, termasuk saya yang kebetulan waktu itu cuma duduk di sudut belakang, di meja media partner.¬†

Adrian kemudian melanjutkan “Karena itu saya membuat lagu ini, karena cowok pengen diajari bagaimana cara mencintai ceweknya. dan akhirnya bulan april lalu saya berhasil” katanya sambil tersenyum lebar dan menunjukkan sebuah cincin yang terpasang di jari manis kirinya. Dan, tiba-tiba terjadilah insiden gelas pecah di meja bar. mungkin sang pemegang gelas kecewa karena Adrian sudah punya cincin di jarinya, entahlah. Setelah perhatian teralih sebentar, akhirnya Adrian mulai menyanyikan lagunya, disambut tepuk tangan penonton, entah tepuk tangan untuk lagunya, atua untuk intermezzo-nya tentang perempuan yang ingin selalu dimengerti.¬†

Well, jujur saya sendiri tepuk tangan untuk yang kedua. begitulah perempuan.¬†When woman say No, it does’t always mean No. When they say I’m ok, it doesn’t always mean their really ok. They want men just know, what they want and need exactly,.,.