Ternyata Cinta Sejati Bukan Cuma Ada di Film

Hari ini, atau tepatnya kemarin-karena sepertinya waktu sudah lewat pukul 12 malam, media massa dipenuhi berita meninggalnya istri presiden ketiga kita, BJ Habibie. Ibu Hasri Ainun Habibie meninggal dunia di usianya yang ke 73 setelah 2 bulan tergolek koma di salah satu rumah sakit di Jerman.

Sebetulnya saya cukup mengikuti berita tentang beliau menjelang kematiannya, tetapi perhatian saya baru benar-benar tercuri saat banyak membaca tentang perjalanan cinta almarhum dengan sang suami. Bahkan, topik tentang kisah cinta pasangan yang sudah membina rumah tangga selama 48 tahun ini sempat menjadi trending topic di twitter.

Setelah membaca beberapa artilkel di internet, saya sangat tersentuh dengan kisah cinta mereka.  Apalagi melihat foto-foto yang menunjukkan kesetiaan Pak Habibie menjaga sang istri selama 2 bulan tinggal di rumah sakit. Menurut salah satu artikel, Pak Habibie bahkan tidak mau meninggalkan rumah sakit sekalipun.

 mendampingi di saat-saat terakhir

Ternyata Pak Habibie dan Ibu Ainun sudah saling mengenal sejak kecil, saat mereka tinggal berdekatan di Bandung. Mereka bahkan pernah satu sekolah saat SMA, hanya Pak Habibie satu angkatan di atas Ainun. Saat SMA mereka cukup dekat dan Habibie sering meledek Ainun dengan sebutan “Si Manis Gula Jawa” karena kulit Ainun yang kecoklatan akibat hobinya berenang.

Tahun 1954, Habibie lulus SMA dan melanjutkan ke Universitas Indonesia Bandung (sekarang ITB), kemudian mendapat beasiswa ke Jerman. Setahun kemudian Ainun melanjutkan kuliah ke FKUI. Setelah 7 tahun berpisah, akhirnya mereka bertemu saat Habibie telah berhasil mendapat gelasr sarjananya di Jerman dan Ainun telah bekerja di RSCM. Si manis gula merah, sudah berubah menjadi gula pasir. Cinta merekapun bersemi kembali. Apalagi setelah Habibie tinggal di Jakarta bersama salah satu  kerabatnya. Ia bisa semakin dekat dengan Ainun, menjemputnya ke tempat kerja menaiki becak menjadi kegiatan rutin mereka saat berpacaran. Akhirnya mereka menikah 12 Mei 1962 setelah dua bulan bertunangan.

Selama 48 tahun mendampingi Pak Habibie, ibu Ainun adalah sosok istri yang selalu memberi dukungan positif untk sang suami. Mulai dari mendampingi belaiu belajar d Jerman, sampai menjadi Ibu Negara. Ibu Ainin adalah orang yang paling mengerti, apa yang dibutuhkan sang suami, makanan apa yang bisa ia makan, dan kapan saatnya beristirahat dari pekerjaan yang menumpuk. Beliau selalu setia mendampingi saat sang suami menghadapi berbagai masalah negara.

Pak Habibie dan Ibu Ainun dikenal sebagai pasangan yang romantis, bahkan banyak pejabat negara yang terisnpirasi dari pasangan dengan dua anak ini. Pak Habibie tidak pernah lupa memberi perhatian kecil pada sang istri, meskipun hanya saling berpegangan tangan saat berapa di mobil atau saat tidur.

“12 Mei 1962 kami dinikahkan. Bibit cinta abadi dititipkan di hati kamu dan hati saya, pemiliknya Allah. Cinta yang abadi dan sempurna. Kamu dan saya, sepanjang masa. Nikmatnya dipatri dalam segala-galanya, satu batin dan perasaanya,” begitulah ungkapan Bapak Habibie tentang kisah cintanya dengan Ibu Ainun.

Dari kisah mereka saya banyak belajar tentang arti kesetiaan. saya sangat terharu, meihat kesetiaan Pak Habibie mendampingi sang istri yang terbaring koma selama berbulan-bulan. Bahkan saat jenazahnya dibawa ke Indonesia, beliau tidak pernah mau jauh dari peti jenazah.

Ibu Ainun saat masih sehat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s