Tentang Parodi Samuel Mulia

Saya sangat suka membaca kolom Parodi di Kompas Minggu tulisan Samuel Mulia. Meskipun tidak berlangganan dan tidak membaca segara rutin. tapi saya tidak pernah melewatkan kolom ini kalau kebetulan menemukan Kompas edisi minggu. Tulisan karya Samuel Mulia selalu bisa membuat berfikir, mengangguk, atau sekedar tersenyum dengan ceritanya yang menggelitik dan kebanyakan terinspirasi dari kehidupan sehari-harinya. Saya tidak tahu siapa Samuel Mulia, namanya memang cukup familiar tapi info yang saya dapat dari credit title cuma *Samuel Mulia, Penulis mode dan gaya hidup. Dari gaya tulisan dan bahasa yang digunakan, saya mulai menebak-nebak kira-kira seperti apa sosok Samuel Mulia. Dari namanya dia jelas seorang laki-laki tapi gaya penulisannya menurut saya sangat perempuan. Mulai dari topik yang dibicarakan sampai gaya bahasa, membuat saya menerka-nerka bahwa Samuel Mulia pastilah seorang laki-laki yang agak feminim. Benar saja, beberapa tulisannya menegaskan sang penulis adalah seorang gay. Karena penasaran saya mencari info di internet dan memang kesimpulannya Samuel Mulia adalah seorang pencinta lawan jenis. Lalu apakah saya jadi tidak suka dengan hasil karyanya? tentu saja tidak, siapapun dan seperti apapun penulisnya, yang penting adalah bagaimana tulisan tersebut mampu membuka pikiran pembacanya, atau minimal sekedar menghibur. Lagipula apa salahnya mengakui diri sebagai seorang Gay, toh apapun itu Samuel Mulia tetap keren di mata saya.

Kasus Video Ariel di Mata Murid TK

percakapan ini terjadi beberapa jam lalu di kamar saya:

Adik saya yang masih TK: Ih parah banget kan Ariel sama Luna Maya
Saya: *kaget, mengalihkan pandangan ke adik saya yang SMA
Adik saya yang SMA: Udah jangan dibahas. tadi juga dia lagi ngomongin sama Sasa (adik saya yang masih SD). mending ga usah dibahas
Adik saya yang masih TK: Mba, udah nonton belum?
Saya: *bengong

Sebenarnya saya gak mau ngomongin kasus video Ariel, tapi saya jadi tergelitik karena ternyata masalah ini jadi bahasan begitu banyak orang, bahkan gak memandang usia. Adik saya yang TK dan juga SD tentu belum paham, apa maksud video yang dibicarakan itu. Darimana ya dia bisa tau masalah beginian? dari media tentu saja, terutama televisi. Sulit mencegah anak-anak seusia mereka menyaksikan pembahasan kasus ini di televisi, karena penayangannya yang sangat intens, dari acar gosip sampai program berita yang rada serius. Mudah-mudahan saja adik-adik saya itu cuma asal komentar parah, karena memang itu yang mereka dengar, bukan yang ereka mengerti.

Caringin Tilu

Yeah, akhirnya saya bisa melihat langsung tempat yang selama ini cuma saya dengar dari teman-teman, Caringin Tilu atau cartil. Setelah cukup lama berwacana pengen ke sana, kali ini benar-benar tanpa rencana sebelumnya, berdua sama pacar.

Untuk mencapai daerah ini, kita harus masuk ke  jalan Padasuka, (dekat terminal Cicaheum) terus menanjka sampai jalannya sudah gak muat dilewati mobil, kecuali yang nekat, hehehe

Sekitar beberapa kilometer ke atas, mulai terasa udara dingin menusuk, dan siap-siap begitu menengok ke belakang, kita langusng disuguhi pemandangan seluruh Kota Bandung.

Kita berangkat menjelang sore, kira-kira pukul 5. Tujuannya, supaya bisa melihat satu persatu lampu Kota Bandung dinyalakan. Sampai di cartil kira-kira 20 menit dari padasuka, kita masih naik lagi ke atas sampai kelihatan sebuah warung di atas bukit, Warung Daweung. beberapa tanjakan menuju Warung Daweung,  ternyata si merah (nama motor si pacar :p) gak kuat membonceng saya. Terpaksa saya turun dan berjalan kaki (sumpah, capeek :()

Tapi rasa capek bilang begitu disuguhi pemandangan Kota Bandung dari halaman Warung Daweung. setelah puas melihat-lihat, kita memutuskan memesan makanan, kentang goreng & coklat hangat.

Sambil menungu makanan yang ternyata lamaaaa (karena kentangnya original bukan kentang instan), kita sepetin diri foto-foto (saya sih yang difoto :D) sambil melihat satu persatu lampu kota menyala.

Woow, indah banget melihat Kota Bandung dari atas. Di sana ada beberapa pengunjung juga yang rata-rata berpasangan. Pukul 7 malam, akhirnya kita memutuskan turun karena saya harus kembali pulang ke Bekasi. Liburan yang menyenangkan, dan murah meriah, hahahahaha

Terima Kasih Mbee, terima kasih Merah 🙂

Teru teru bōzu (てるてる坊主)

              

Hari ini hujan lagi, saya jadi pengen nulis lagi tentang hujan. Ngomong-ngomong soal hujan, ada satu hal yang menarik dari kebiasaan orang jepang tentang hujan. Orang Jepang biasa membuat boneka kain pengusir hujan. Buat yang suka baca komik jepang, pasti gak asing lagi sama boneka yang suka digantung di dekat jendela ini, namanya Teru teru bōzu (てるてる坊主).

”Teru” adalah kata kerja dalam bahasa Jepang yang menjelaskan bercahaya, atau baik (cuaca) dan “bōzu” adalah Buddha rahib, atau jika dalam slang artinya “gundul.”

Teru teru bōzu menjadi populer selama periode Edo, anak-anak membuat teru-teru-bōzu dari kertas tisu atau kapas dan benang/senar dan menggantungkan boneka ini di jendela karena ingin cuaca yang cerah, sering dilakuan sebelum hari piknik sekolah. Jika digantung terbalik dengan kepala dibawah maka kerjanya seperti doa untuk hujan. Jadi jangan sampai salah membalik.

Saking populernya ada lagunya segala lho:

てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれいつかの夢の空のように晴れたら金の鈴あげよ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo

てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれ私の願いを聞いたなら甘いお酒をたんと飲ましょ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Watashi no negai wo kiita nara
Amai o-sake wo tanto nomasho

てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれもしも曇って泣いてたらそなたの首をちょんと切るぞ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Moshi mo kumotte naitetara
Sonata no kubi wo chon to kiru zo

Translation:
Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Seperti langit dalam mimpi
jika cuacanya cera Saya akan memberikan Anda bel emas

Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Jika Anda ingin membuatnya menjadi kenyataan
Kami akan banyak minum sake manis

Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Tetapi jika mendung dan anda menangis (hujan)
Lalu aku akan memotong putus kepalamu.