Happy Working Cup Cake

Yang namanya surprise memang selalu menyenangkan, baik yang dikasih maupun yang memberi. Surprise juga ga usah nunggu ada momen spesial segala, jd tiada angin tiada hujan saya tiba-tiba pengen kasi surprise buat pacar :p
Kebetulan, waktu kerja di Bandung sempet punya kenalan baker yang suka terima pesanan kue, namanya Mbak Mira pemilik www.rifacakes.com. Jadi kepikiran mau kirim cupcake. Langsung deh calling via twitter n BBMan. Stelah sepakat sama pesananya (6 cupcake seharga Rp100rb n ongkos kurir 25rb) langsung deh bikin gambar design seadanya. Karena rencananya mau dikirim ke OZ radio hari Senin malam jadi temanya “Happy Working” lengkap dengan hiasan bentuk radio, headphone, & laptop.
Senin Pagi dapet BBM foto cupcake yang udah jadi, waaaw jadi pengen buru-buru ngasih hehehe. Akhirnya ganti alamat pengiriman ke tempat tinggal pacar di Antapani yang ternyata deket banget sama rumah Mbak Mira. Cup cake diantar langsung sama suaminya mbak Mira sekalian berangkat kerja jadi ongkos kirim ga kepake n dijadiin deposit untuk pemesanan selanjutnya hehe.
Jam11 siang kok belum ada kabar yah, ternyata si pacar belum bangun -,-. Pas bangun si cupcake udah ada di meja kerja, dan dia suka banget sampe sayang buat makannya hehe….
Makasih ya Mbak Mira, sukses buat Rifacakes-nya dan semoga si pacar makin semangat kerja °(´▽`)/°

You learn to like someone when you find out what makes them laugh, but you can never truly love someone until you find out what makes them cry. 

~Author Unknown

Kampung Balonk

“Nanti gambrengnya item 2 kali, putih sekali ya” bisik Ratna kepada Yayu. Meskipun Yayu 3 tahun lebih tua, Ratna yang badannya lebih tangkas lebih suka satu kelompok dengan Yayu dalam permainan apapun baik lompat tali, gobak sodor, ataupun bete. Permainan itulah yang akrab diantara anak-anak yang tinggal di sebuah perkampungan kumuh di Cilandak, Jakarta Selatan. Sekilas dari jalan raya yang tampak adalah perumahan elite bernama “Paradise” yang ditinggali expatriat asing. Sebuah gang bernama jalan pelita menjadi penghubung ke kampung yang diberi nama “Kampung Balong” atau tulisan kerennya saat itu “Kampung Balonk”. Balonk berarti empang, dari nama ini kita tahu banyak empang di kampung Balonk. Empang-emang ini biasa dijadikan tempat pemancingan, dan di sisi kampung terdapat Kali Krukut yang seringkali meluap saat musim hujan dan membuat rumah warga terendam banjir. Meskipun luasnya hanya seukuran beberapa rumah di komplek “Paradise”, kampung balonk ditinggali ratusan keluarga. Dengan rumah-rumah petak kontrakan milik beberapa warga asli Betawi. Yayu dan Ratna sudah bertetangga sejak Yayu baru mau memasuki SD dan Ratna masih balita. Mereka tinggal di kontrakan milik Bapak Badrun. Meskipun beda usia, mereka seringkali main bersama. Mereka tidak pernah mengenal play station ataupun Barbie. Permainan yang akrab dengan mereka adalah menangkap capung, petak umpet, atau main masak-masakan dengan peralatan yang diambil dari tempat sampah. Jangankan main play station, menonton televisi saja harus nunpang di rumah pemilik kontrakan karena rumah kontrakan mereka belum memiliki aliran listrik. Tiga tahun bertetangga, Yayu, Ratna, dan teman-temannya harus berpisah karena kontrakan Bapak Badrun akan digusur untuk perluasan komplek “Paradise”. Yayu pindah ke sebuah kontrakan di Ciputat sementara Ratna pindah tidak jauh dari kontrakan sebelumnya. Ternyata tidak sampai setahun pindah ke Ciputat, kedua orangtua Yayu memutuskan untuk kembali ke Kampung Balonk. Yayu dan Ratnapun kembali bertetangga dan bermain bersama lagi. Karena sudah akrab bertetangga bertahun-tahun lamanya, Orangtua Yayu dan Ratna memutuskan untuk membeli tanah bersama-sama di daerah Tambun, Bekasi. Orangtua Yayu lebih dulu membangun rumah di Bekasi dan berpisahlah dua keluarga yang sudah bertetangga selama 8tahun. Keluarga Ratna ternyata tidak menyusul tetapi justru menjual tanahnya kepada orangtua Yayu. 10 tahun kemudian, Yayu yang kini sudah berusia 24 tahun berkunjung kembali ke Kampung Balonk yang kini sudah lebih sempit dan tidak ada lagi empang di sana. Beberapa tetangga masih mengenalnya dan menyapanya dengan ramah serta menawari untuk mampir tapi hari itu dia sedang terburu-buru untuk menengok teman kecilnya Ratna yang baru saja melahirkan anak pertamanya,.,.

Not so Delicious Pancious

Oke, katakan saya kurang gaul karena belum pernah makan di Pancious Pancake. Berawal dari rencana reuni kecil-kecilan teman selama di radio LP dulu, kita memutuskan untuk kumpul di Pancious Sency. Karena sering mendengar cerita tentang Pancious yang katanya enak banget, saya jadi semangat untuk nyoba. Saya sampe lebih dulu dan cari tempat duduk sambil nunggu teman lain. Karena lama nunggu saya jadi ga enak hati dan pesan duluan. Dengar cerita dari teman pancake saus mangga di sini uenak banget (suer dia ceritanya sampe merem-melek gitu :p), sayapun memutuskan untuk nyoba single pancake rasa mango dengan topping ice cream chocochip seharga Rp 35.000.
Ga sampe 5menit pesanan terhidang di meja, wiih menggugah selera banget dan menggugah rasa ingin moto hehe. Ternyata setelah dicoba khayalan gak sesuai kenyataan. Rasa pancake amat sngat biasa ditambah buah mangga kalengan rasa bahan pengawet dan ice cream bertekstur kasar. Istilah yang tepat saat itu: wakwaaaw. Tapi mungkin yang rasa mangga aja kurang cocok di lidah saya, lain kali coba yang rasa lain kali yaa.
Ga lama 2 teman dantang dan dengan cengengesan mereka minta pindah makan ke sushi tei karena lapar (˘_˘"). Well, pelajaran hari ini adalah ga semua makanan mahal, terkenal, dan gaya itu enak di lidah padahal ga enak juga di kantong wkwkwk. Pancake Parlour is better, hmm bahkan pancake Shava Yoghurt jatinangor juga better meski harganya ga nyampe Rp 10rb. Ah sudahlah saya jadi kangen jatinangor nih, hiks