Kampung Balonk

“Nanti gambrengnya item 2 kali, putih sekali ya” bisik Ratna kepada Yayu. Meskipun Yayu 3 tahun lebih tua, Ratna yang badannya lebih tangkas lebih suka satu kelompok dengan Yayu dalam permainan apapun baik lompat tali, gobak sodor, ataupun bete. Permainan itulah yang akrab diantara anak-anak yang tinggal di sebuah perkampungan kumuh di Cilandak, Jakarta Selatan. Sekilas dari jalan raya yang tampak adalah perumahan elite bernama “Paradise” yang ditinggali expatriat asing. Sebuah gang bernama jalan pelita menjadi penghubung ke kampung yang diberi nama “Kampung Balong” atau tulisan kerennya saat itu “Kampung Balonk”. Balonk berarti empang, dari nama ini kita tahu banyak empang di kampung Balonk. Empang-emang ini biasa dijadikan tempat pemancingan, dan di sisi kampung terdapat Kali Krukut yang seringkali meluap saat musim hujan dan membuat rumah warga terendam banjir. Meskipun luasnya hanya seukuran beberapa rumah di komplek “Paradise”, kampung balonk ditinggali ratusan keluarga. Dengan rumah-rumah petak kontrakan milik beberapa warga asli Betawi. Yayu dan Ratna sudah bertetangga sejak Yayu baru mau memasuki SD dan Ratna masih balita. Mereka tinggal di kontrakan milik Bapak Badrun. Meskipun beda usia, mereka seringkali main bersama. Mereka tidak pernah mengenal play station ataupun Barbie. Permainan yang akrab dengan mereka adalah menangkap capung, petak umpet, atau main masak-masakan dengan peralatan yang diambil dari tempat sampah. Jangankan main play station, menonton televisi saja harus nunpang di rumah pemilik kontrakan karena rumah kontrakan mereka belum memiliki aliran listrik. Tiga tahun bertetangga, Yayu, Ratna, dan teman-temannya harus berpisah karena kontrakan Bapak Badrun akan digusur untuk perluasan komplek “Paradise”. Yayu pindah ke sebuah kontrakan di Ciputat sementara Ratna pindah tidak jauh dari kontrakan sebelumnya. Ternyata tidak sampai setahun pindah ke Ciputat, kedua orangtua Yayu memutuskan untuk kembali ke Kampung Balonk. Yayu dan Ratnapun kembali bertetangga dan bermain bersama lagi. Karena sudah akrab bertetangga bertahun-tahun lamanya, Orangtua Yayu dan Ratna memutuskan untuk membeli tanah bersama-sama di daerah Tambun, Bekasi. Orangtua Yayu lebih dulu membangun rumah di Bekasi dan berpisahlah dua keluarga yang sudah bertetangga selama 8tahun. Keluarga Ratna ternyata tidak menyusul tetapi justru menjual tanahnya kepada orangtua Yayu. 10 tahun kemudian, Yayu yang kini sudah berusia 24 tahun berkunjung kembali ke Kampung Balonk yang kini sudah lebih sempit dan tidak ada lagi empang di sana. Beberapa tetangga masih mengenalnya dan menyapanya dengan ramah serta menawari untuk mampir tapi hari itu dia sedang terburu-buru untuk menengok teman kecilnya Ratna yang baru saja melahirkan anak pertamanya,.,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s