Senangnya kumpul sama temen lamaa. Meskipun akhirnya cuma bertiga (gw, dini, yossy) tapi cukup bikin Sushi Tei Sency cukup rusuh karena kita terlalu bersemangat cerita tentang masa-masa indah asem manis di LP Radio dulu :p

Mengapa Tuhan Menciptakan Rasa Bosan?

Manusia ga pernah lepas dari yang namanya keinginan. Ingin begini, ingin begitu, ingin ini, ingin itu, banyak sekalii (doraemon doong (˘_˘")). Gak jarang kita harus berjuang mati-matian untuk mencapai keinginan. Nabung n ngirit karena pengen punya barang baru, dandan yang cantik biar dapet pacar baru.
Tapi, setelah keinginan terwujud muncul deh rasa yang namanya “bosan”. Nabung 6bulan buat beli laptop, senengnya cuma 1bulan terus tiba-tiba pengen beli tablet PC. Sekeren apapun barangnya, seolah ga akan keren lagi kalau sudah kita punya. Bisa jadi ini ada hubungannya sama istilah ekonomi yang namanya “kepuasan marginal”. Rasa eskrim akan enak banget kalau kita baru makan 1, tapi saat kita makan 5, bukan enak lagi tapi bisa jadi enek :p
Kenapa ya harus ada rasa bosan segala. Kalau ga ada rasa bosan mungkin saya bisa makan makanan yang sama setiap hari, pake baju yang sama tiap hari, nonton film yang sama setiap hari (ngeri juga yah :D).
Bisa jadi rasa bosan punya kontribusi dengan perkembangan teknologi. Karena bosan jalan kaki, ilmuwan menciptakan mobil. Karena bosan makan nasi, terciptalah nasi goreng, lontong, ketupat. Karena bosan sama worpress orang jadi pada pake tumblr. Karena rasa bosan bosan hidup jadi lebih berwarna ya 🙂

At The End

Dua orang teman saya (gak terlalu dekat) sudah pacaran selama 5 tahun, tapi akhirnya harus putus juga. Denger-denger sih katanya emang sering putus nyambung dan si perempuan kurang bisa menerima keadaan si laki-laki yang membuat mereka jadi sering cekcok.
Singkat cerita, si laki-laki curhat sama teman-teman lelakinya yang tentu aja kenal juga sama si mantan. Di saat curhat itulah teman-temannya kemudian membenarkan dia untuk putus, dan kemudian keluarlah segala unek-unek jelek tentang mantan pacar teman mereka.
Kalau memang gak suka, kenapa gak dari dulu mereka menyampaikan. Kenapa harus menunggu selama 5 tahun dan setelah temannya putus hubungan. Jawabannya mungkin karena merasa tidak enak, masa menjelekkan pacar teman sendiri. Nanti bisa-bisa si teman tersinggung. Biasanya ini terjadi justru dengan teman dekat, yang merasa sayang dan gak rela temannya dapat pacar yang menurut mereka kurang menyenangkan.
Mending sekarang kita introspeksi, kira-kira teman-temannya pacar sering mengajak kita terlibat di kegiatan mereka sama pacar kita gak. Atau sebaliknya bagaimana respon teman-teman kita sama pacar kita. Kalau mereka cenderung malas kita ajak pacar kalau kumpul berarti siap-siap aja kita dapet omongan jelek tentang pacar kita kalau putus nanti…

Khayalan Masa Lalu dan Kenyataan Masa Kini

Belasan tahun lalu saat anak-anak atau abege, saya sering ngebayangin seperti apa ya saya di usia 25tahun. Bayangan yang muncul waktu itu saya sudah sukses, dengan pekerjaan impian, tinggal di rumah impian, punya mobil, atau bahkan sudah menikah dengan pria impian.
Hari ini saya mendapati kenyataan usia sudah menginjak 25 tahun, tidur di kamar kost dengan ukuran sangat minim, dengan uang di dompet cuma Rp 50.000, itupun subsidi dari pacar. Tabungan nol rupiah, tidak ada rumah impian, tidak ada mobil, dan tidak tau kapan akan menikah. Well, tentu gak semua impian yang kita idamkan bisa tercapai. Lantas apa saya harus merasa jadi manusia gagal? Terus kalau gagal mau apa, meratapi?
Satu hal yang dibutuhkan saat ini adalah rasa syukur. Syukur karena diberikan kesehatan, diberikan pekerjaan, dan tentu saja dikelilingi orang-orang yang memberi limpahan sayang ☺‎​☺☺‎​☺

Perempuan tidak suka mengatakan secara gamblang apa yang mereka inginkan, apalagi harus megucapkannya lebih dari satu kali #ithink