My First Violin Lesson

Biasanya tiap lagi les biola, saya set status bbm “violin lesson =D/”, begitu juga hari Senin kemarin. Tiba-tiba ada salah satu teman lama di LP dulu, Loli yang kirim BBM “Ury les biola di mana? Mau ikutan dong, pengen dari dulu tapi belum sempet2”. Saya akhirnya mengajak dia les bareng dan hari ini dia mengabari sudah beli sebuah biola baru.
Loli ingin mulai belajar dengan semangat 45, sama seperti semangat saya saat akan mulai belajar biola dulu. 2,5 tahun lalu, tiba-tiba saja saya pengen belajar main biola. Saya lupa entah dengan alasan apa, yang jelas begitu keinginan itu muncul saya langsung ancang-ancang mengumpulkan uang untuk beli biola.
Dengan sedikit uang dari hasil bekerja sambilan di radio dan uang lebaran dari bokap, saya beli sebuah biola di sebuah toko musik di Bandung. Bukan biola mahal, tapi cuma biola biasa dengan harga tidak sampai Rp 700ribu rupiah.
Berbekal sebuah DVD tutorial bermain Biola Oleh Rick Sanders yang saya beli di toko buku Gramedia, saya mulai belajar biola dari nol.
Selama 2 bulan saya mempelajari biola di kamar kost secara diam-diam. Diam-diam, karena teman pertama yang saya beritahu tentang minat saya ini memberi respon yang kurang menyenangkan “Apa? Lo mau belajar biola? Ngapaaaiiin? Biola mah harus dari kecil kalii” jujur, respon seperti itu memang tidak membuat saya mundur tapi sedikit membuat saya malas dilihat dan dikomentari segala. Yang terpenting masih ada orang yang mendukung saya, terutama sang pacar 🙂
Setelah merasa siap (siap mental dan keuangan), saya mendaftarkan diri untuk belajar di salah satu lembaga kursus musik terkemuka. setiap bulan saya sisihkan honor bekerja sambilan di radio untuk membayar les berdurasi 4×30 menit per bulan. Meskipun katanya ada murid yang sudah berusia kepala 4, tapi tetap yang terlihat oleh saya adalah murid-murid seumuran Sekolah Dasar. Bukan berarti saya jadi jiper karena merasa tua, bukankah ada istilah klise “Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Belajar.”
Satu tahun berlalu, saya sempat berhenti les karena pindah ke Jakarta. Di Jakarta saya merasa tidak mampu membayar biaya les di lembaga les serupa di Bandung karena ternyata harganya jauh lebih mahal. Akhirnya saya mencari guru privat pribadi, yang mengajar di rumah, bukan di bawah suatu lembaga.
Melalui internet saya mengenal Bapak Thursan Hakim dan kemudian mulai belajar di rumahnya di daerah Benhill. Dengan guru independent seperti beliau, waktu belajar menjadi lebih lama, lebih fleksibel, dan tentu saja lebih menyenangkan.
Saat ini saya memang belum bisa dibilang jago, belum pernah tampil di depan penonton, tetapi memang tujuan kita mempelajari seni bukan hanya untuk itu. Yang jelas, saya selalu senang dan semangat kembali setiap saat pulang les, setiap saat saya dapat memainkan nada nada baru. Saya menikmati setiap detail dari proses belajar ini tanpa harus terfokus pada tujuan yang menuntut untuk dicapai membatasi kesenangan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s