Selera Bule

Ada suatu cerita menarik di buku “Cracking Zone” Rhenald Khasali. Begini ceritanya *gaya kismis*:

“Seorang cowok bule (lupa negaranya) senang bergaul dengan komunitas WNI karena sebelumnya dia pernah tinggal di Indonesia. Oleh komunitas WNI ini dia sangat dipuja karena ganteng, pintar, kaya, pokoknya sempurna. Suatu saat dia tinggal lagi di Indonesia untuk waktu yang cukup lama. Saat kembali ke negaranya dia membawa calon istri yang akan dikenalkan kepada teman-teman WNI di sana.
Teman-teman WNI sudah membayangkan, pasti calon istri cowok ini sangat cantik dan tentu saja pintar. Tetapiiii apa yang terjadi, betapa kagetnya karena ternyata yang dibawa adalah cewek yang menurut mereka sama sekali gak cantik, bahkan dengan dandanan yang gak matching. Ternyata, si cewek adalah bekas pembantu rumah tangga di rumah si cowok dan akhirnya mereka saling jatuh cinta”

Cerita tadi memang cuma ada di buku, entah benar atau cuma ilustrasi. Tapi yang jelas kejadian macam ini pasti sudah sering kita temui. Bagi saya yang tinggal dan berkantor di daerah Mega Kuningan, pemandangan cowok bule menggandeng cewek lokal dengan penampilan yang teman-teman saya sebut “selera bule” sudah jadi hal biasa. Bahkan salah satu teman kost saya yang dulunya bekerja sebagai waitress juga punya pacar bule.

Mungkin Rhenald mengangkat kisah “selera bule” di bukunya karena dianggap sebagai contoh berfikir “menembus batas”. Saking inovatifnya si bule, sampe seleranya dalah urusan cinta juga rada nyeleneh. Bulenya yang nyeleneh, atau pemikiran orang Indonesia yang terlalu sempit? Gak siap menerima sesuatu yang beda dari kebiasaan mereka. Kalau orang Indonesia bisa rada norak liat bule, dimaklumi dong orang bule juga rada norak liat penampilan oeksotis orang Indonesia :p

Sekarang coba kita lihat ke sekeliling kantor/kampus. Cari cowo yang paling gak ganteng, gak pinter, dan sangat biasa sampai jarang punya pacar. Bayangkan cowok itu lahir di Amerika atau Eropa. Di Indonesia cowok semacam itu pasti terselamatkan karena predikat bulenya. Kalau di negara asalnya dia susah dapet pacar, bukan gak mungkin di Indonesia cewek antri pengen jadi pacarnya.

So, memangnya kenapa kalau bule? Toh cuma beda warna kulit dan tempat lahir aja. Saya sudah kenalan sama pacar teman kost saya. He’s nice. Gak perlu ada komentar “kok bule seleranya yang begitu ya? Pasti karena nurut n gampang ditipu.” Itu sih sirik namanya hehehe.

Salah satu teman saya, senior, seorang jurnalis juga punya pacar bule. Tapi kalau yang ini saya bisa bilang si bule beruntung dapet si teman saya.

Sesuatu yang “beda” memang selalu terlihat menarik, jadi wajar kalau cowok bule suka penampilan cewek Indonesia dan sebaliknya. Lebih baik kita syukuri kalau makin banyak perkawinan campur, mungkin dunia bisa jadi lebih damai :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s