It’s so Random

Semua terjadi serba kebetulan, dan satu kebetulan menimbulkan kebetulan yang lain.

Belakangan ini saya punya kesibukan baru, kumpul sama teman-teman @kotakatak. Berawal dari ajakan salah satu teman, Intan untuk membuat semacam komunitas pegiat sastra dengan misi menjadikan sastra terasa ringan dan menyenangkan untuk anak muda.

Bukan karena jago nulis puisi, atau suka baca sajak yang membuat saya menerima ajakan ini, tapi sekedar karena penyakit “hayuk” yang sudah lama saya derita. Diajak apa-apa bawaannya hayuk aja, lumayan untuk pelarian dari rutinitas kantor.

Pertemuan pertama komunitas ini dihadiri 5 orang termasuk saya & Intan dan beberapa teman yang dikenal Intan dari dunia maya. Pertemun pertama masih meraba-raba tentang konsep dan nama sampai akhirnya tercetus nama Kotakatak.

Pertemuan kedua diadain di Ayodia Barito dengan jumlah peserta sampai belasan orang. Hasil dari pertemuan sampai menjelang tengah malam itu adalah perlu perumusan lagi tentang arah dan visi misi Kotakatak.

Hari ini, tepatnya kemarin sampai dini hari adalah pertemuan ketiga tim Kotakatak dan saya tetap jadi peserta setia, juga Fiqi & Ari. Jam 8 malam kita sudah kumpul di tempat yang ditentukan, tapi yang lain gak jelas kabarnya. Karena lapar, kita memutuskan nunggu sambil makan di Wapress (Warung Apresiasi) Bulungan.

Ternyata, di Wapress sedang berlangsung acara dan ternyata lagi acaranya bisa dibilang sama dengan konsep yang ingin diangkat Kotakatak. Di acara ini beberapa orang dipersilahkan maju untuk membawakan karya seperti puisi, sajak, atau akustikan. Bedanya dengan Kotakatak, semua performer dan penonton sudah berusia hampir setengah baya.

Gak lama kita menyimak acara, Intan datang disusul Raya. Begitu melihat konsep acara, Intan langsung gatel pengen ikutan tampil baca puisi. Berkat rayuan Fiqi, panitia bersedia ngasih waktu Intan untuk tampil, sebagai pengisi acara paling muda hehe

Acara yang diberi nama “Sastra Reboan” ini adalah project dari Komunitas Pasar Malam, lupa lagi apa singkatan pasar malam. Yang jelas, mereka ngadain acara serupa setiap Rabu malam minggu terakhir tiap bulan.

Merasa cocok dengan konsepnya, kita memutuskan untuk tukar pikiran dengan beberapa pegiat komunitas pasar malam, diantaranya sastrawati bernama Mbak Kirana. Obrolan yang direncanakan 15menit aja akhirnya merembet sampe berjam-jam.

Intinya, setelah pertemuan ini kita berharap akan ada pertemua selanjutnya untuk saling tukar pikiran dan saling support untuk menjadikan sasta lebih dicintai & dinikmati dengan fun tanpa menyernyitkan dahi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s