Bedah Buku KOMEN, Komik Manajemen “Speed, Spirit, and Pray”

Hari ini, tim Channel meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk ikutan bedah buku “Speed, Spirit, and Pray” karya kepala suku Channel Bp Joedi Wisoeda aka Mas Jewe.

Buku berisi tips menjadi pemimpin yang baik ala Mas Jewe ini disajikan dalam bentuk komik karena menurut Mas Jewe komik akan lebih mudah dicerna dibandingkan buku yang cuma berisi teks.

Lewat buku setebal 120 halaman ini kita dapat memetik pelajaran bagaimana menumbuhkan sifat kepemimpinan, bagaimana menjadi pemimpin yang mampu memotivasi timnya, dan bagaimana seharusnya seorang pemimpin memposisikan diri dalam tim.

Sebagian besar kisah dalam buku ini adalah pengalaman Mas Jewe sendiri saat baru menjabat sebagai Vice President di Central Region. Kebetulan, ilustrator dan penyunting naskahnya adalah teman saya Roni dari Curhat Anak Bangsa. Kolaborasi yang sangat apik menghasilkan karya yang inspiratif.

Sebelum memulai bedah buku, Mas Jewe minta 5 orang peserta menyebut nama salah satu temannya. Terima kasih untuk Mas Terry yang menyebut nama saya, jadi saya bisa dapet 1 buku KOMEN gratis, heheheh

Buat yang tertarik untuk baca buku ini, bisa dibeli di toko buku seharga Rp 29.000 aja. Hmm, bagus juga buat hadiah untuk boss biar bisa memimpin dengan baik kayak Mas Jewe :p

Me vs Femina Group

Gimana rasanya diangkat tinggi-tinggi tapi terus dibanting sekencang-kencangnya? Kira-kira begitu yang saya rasain dari perlakuan Femina Group. Gara-gara dapet email dari jobsdb yang nyebutin lowongan di Femina jadi inget pengalaman super nyebelin 10bulan lalu.

Waktu itu, kerja di majalah jadi salah satu impian terbesar saya. Begitu dapet info lowongan dari teman saya Efi, saya langsung kirim lamaran. Beberapa hari kemudian langsung diinterview via telpon dan menyusullah serangkaian test mulai dari test nulis, psikotest, sampe test Bahasa Inggris Comprehensif.

Setelah serangkaian test melelahkan yang rata-rata makan waktu sampe seharian, akhirnya saya dan satu kandidat lain dipanggil untuk interview terakhir. Saat itu juga kita dinyatakan diterima bergabung di Femina Group sebagai editor OK Magazine, majalah franchise baru mereka.

Bukan main senengnya dapet pekerjaan impian, saya langsung siap2. Dengan berat hati saya resign dari MD Radio yang sudah nyaman sekali buat saya. Karena cuma 2 weeks notice, saya harus tetep pegang program dengan status freelance sampai ada pengganti. Meskipun cuma 3bulan, MD radio bisa dibilang udah kaya rumah kedua. Berat banget ninggalinnya sampe ada acara nangis-nangis on air segala.

Saking semangatnya mau ngantor di tempat baru, saya belanja seabreg baju baru, sepatu baru, tas baru. Pokoknya semangat 45. Tapi, menjelang hari H masuk kerja saya mulai khawatir karena janji HRD Femina menghubungi saya belum terwujud juga. H-2, saya mulai khawatir dan langsung menghubungi kantor Femina. Sayang, waktu itu keburu sore jadi kantor udah tutup. Saya langsung kirim email ke staff HRD yang pernah mengurus proses rekruitmen saya.

Ternyata balesan email yang saya dapet bener-bener diluar dugaan. Pihak HRD menyatakan rekruitmen saya masih dalam proses, padahal waktu interview terakhir jelas-jelas saya diminta masuk tanggal 3mei, which is 2hari lagi setelah tanggal itu.

Saya langsung cari info teman seperjuangan waktu interview dulu, mbak Debbie. Lewat Facebook saya bisa kontak dia dan ternyata nasibnya sama seperti saya.

Bingung, kecewa, sebel, campur aduk semua. Saya merasa dikerjain karena udah terlanjur resign dari tempat kerja sebelumnya dan waktu saya sampaikan ke pihak HRD Femina, mereka cuma bisa bilang “Akan kita usahakan ditempatkan di majalah lain, Mohon maaf atas ketidaknyamanannya”. Bukan sekedar ketidaknyamanan, tapi saya udah kehilangan pekerjaan. Meskipun masih kerja freelance, meskipun masih bisa balik lagi, tapi lucu kan setelah perpisahanan bercucuran air mata kok terus balik lagi.

2minggu gak ada kabar, Alhamdulillah saya dapet tawaran kerja di Perusahaan lain. Waktu saya sampaikan ke pihak HRD lagi-lagi meraka cuma bisa bilang “kami tidak akan menahan kalau memang sudah mendapat tawaran yang lebih baik” yaah, mungkin mereka lega karena saya gak akan ngejar mereka lagi.

Jujur, di beberapa bulan pertama saya masih nunggu janji mereka yang katanya mau carikan pisisi di majaah lain, yang katanya mau kasi kabar secepatnya tapi gak pernah ada sampe sekarang. Impian kerja di majalah yang udah di depan mata tiba-tiba ilang begitu aja dan sekarang saya terdampar di pekerjaan yang gak pernah dibayangin sebelumnya.

Mudah-mudahan gak ada yang bernasib seperti saya n mbak Debbie dan mudah-mudahan pihak Femina gak sembrono lagi rekrut pekerja untuk posisi yang belum jelas, untuk majalah yang entah mau terbit atau engga.

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri”~Nyai Ontosoroh by Pramoedya Ananta Toer