Ekspedisi Manglayang

Mumpung pegal-pegal di badan masih kerasa, saya mau cerita tentang pengalaman pertama saya naik gunung. Dari dulu saya pengen banget naik gunung. Sebagai permulaan minimal Gunung Geulis atau Manglayang lah, tapi selama 5tahun kuliah di Jatinangor ga pernah kesampaian. Begitu liat timeline teman kampus, @djatya yang katanya mau kemping ke Manglayang long weekend kemaren, saya langsung ajuin diri untuk ikut. Tya janjian naik gunung bareng Putra, yang saya kenal juga waktu kuliah dulu dan junior-junior mereka di HIMA HUMAS UNPAD. Meski saya bukan alumni HUMAS, cuek saja saya ajukan diri untuk ikut sekalian ajak pacar. Kebetulan Tya juga mengajak 2 orang teman kantornya. Oke ini cuma Manglayang, bukan Semeru atau Rinjadi jadi bisa dibilang saya menyepelekan dan gak mau repot mempersiapkan secara heboh. Kamis malam saya berangkat ke Bandung tanpa membawa persiapan kemping apapun dengan alasan bisa pinjam pacar di Bandung. Kita janjian di meeting point Pangdam Jatinangor setelah shalat Jum’at. Jum’at pagi saya dan pacar baru mempersiapkan semua dengan terburu-buru. Beli persediaan makanan, pinjam tenda, asal bawa sleeping bag, jaket, dan senter punya teman yang ada di rumah. Alhasil kita terlambat dan hampir ditinggal. Smpai Jatinangor dalam keadaan basah keujanan dan semua peserta lain sudah siap di dalam mobil. Karena mobil penuh dan sudah gak sempat titip motor, kita berdua memutuskan naik ke kaki gunung pakai motor. Jam 5 sore, kita baru siap untuk manjat. Total peserta 16 orang, 7 perempuan, 9 laki-laki. Peserta dibagi 2 kelompok seusi jenis kelamin dan pengalaman naik gunung, dan sayangnya saya harus pisah kelompok sama pacar. Saya di kelompok 1, dia di kelompok 2. Karena sepatu agak licin, saya memutuskan untuk telanjang kaki. Baru beberapa meter melangkah, ternyata turun hujan dan makin deras, sementara ponco saya ada di tas yang dibawa pacar. Salah satu peserta, Tyo meminjamkan saya ponco sekaligus sarung tangannya. Saya jadi gak enak hati, belum apa-apa udah ngerepotin. Apalagi bawaan saya paling sedikit karena sebagian besar pacar saya yang bawakan. Hujan makin deras dan medan makin terjal. Ini yang diluar dugaan saya. Saya pikir medannya cuma nanjak, dengan jalan lebih lebar dan tanpa jurang. Setelah perjuangan merangkak di tanjakan becek selama berjam-jam, kita sampai juga di puncak dengan ngos-ngosan, dan tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Luas puncak manglayang ternyata cuma beberapa puluh meter persegi, diisi 100 orang kayaknya gak mungkin muat. Katanya sih ini puncak 1, dan di belakangnya ada puncak 2 yang lebih tinggi lagi. Saking capeknya, butuh waktu lebih dari satu jam untuk bergerak lagi memasang tenda. Dan mungkin karena capek juga, acara pasang tenda ini makan waktu cukup lama karena gak ada yang tau cara pasangnya, hehe Sekira jam 1 malam, semua siap tidur. Gak ada api unggun, ga ada kopi hangat, gitarlele yang dibawa dari bawah juga sudah patah. Semua langsung lelap, mungkin kecuali saya yang kebagian tempat tidur gak rata dan kedinginan karena gak bawa celana panjang, cuma celana pendek yang tersisa 😦 begitupun pacar yang cuma pakai celana pendek, ditambah 1 sleeping bag berdua dalam keadaan basah. Bayangan kemping seru jadi kemping menyiksa deeh. Menjelang pukul 6 pagi saya sudah bangun, matahari mulai muncul dan subhanallah indahnya, serasa di atas awan. Kawanan burung terbang mengelilingi puncak. Satu persatu peserta bangun, dan acara narsispun dimulai. Jepret sana, jepret sini. Inilah nikmatnya di atas gunung, semua makanan terasa enak. Meski cuma roti, mie instan, semua terasa nikmat. Acara buang air di semak-semak juga punya keseruan tersendiri. Dan selama di atas gunung, kekompakan jadi nomor 1, semua saling bantu satu sama lain. Singkat cerita, lepas zuhur kita siap-siap untuk turun. Kali ini kita coba lewat jalur lain, nanti munculnya di Cileunyi. Jalan lain ini lebih terjal dari jalan sebelumnya, butuh waktu lama untuk turun dan lebih banyak dengan posisi duduk/meluncur.Tim 2 turun lebih dulu dengan Putra memimpin jalan. Hampir satu jam berjuang, kita ketemu turunan curam dengan jalan cuma selebar satu setengah meter dan jurang di kanan kiri. Kita harus turun satu persatu dengan posisi setengah tiduran. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran saya turun, tapi baru beberapa meter tiba-tiba teman-teman di bawah meneriakkan untuk kembali ke atas. Menurut mereka jalannya tidak memungkinkan untuk kita lewati. Mereka dibantu seorang warga sekitar yang kebetulan lagi berburu burung dan si bapak gak kuat kalau harus menolong semua peserta, jadi untuk 8 orang yang masih di atas sebaiknya putar balik, termasuk saya. Meskipun agak bete dan sempat bengong beberapa saat, kita memutuskan untuk putar balik. Terbayang berapa tenaga dan waktu yang harus dikorbankan, apalagi pacar saya sudah turun duluan, rasanya kesel setengah mati. Sesampai di puncak, kita mengecek persediaan makanan dan memutuskan untuk stay 1 malam lagi karena sudha terlalu sore untuk turun. Kebetulan ada 2 kelompok lain yang baru sampai di puncak, jadi kita cari lahan lain agak ke bawah untuk mendirikan tenda, beruntung semua perlengapan tenda ada di tim kita. Meskipun agak galau, tapi kita coba tetap semangat dan menikmati. Bisa dibilang kemping kali ini justru lebih menyenangkan. 2 tenda kita dirikan, 1 untuk cewe yaitu saya, Tya, Sarah, dan Dilla dan 1 tenda untuk cowok, Atif, Tyo, Dimas, dan Ijo. Kalau malam sebelumnya kita langsung tepar, kali ini setidaknya ada sedikit sesi curhat 😀 yang agak menyiksa buat cowok-cowok adalah persediaan rokok yang sudah habis. Yang agak ribet sih kasi kabar ke pacar, gimana meyakinkan dia untuk gak khawatir, tetap tenang dan bisa balik ke Bandung karena besoknya harus manggung di Jakarta. Minggu pagi, jam setengah delapan pagi kita sudah siap turun. Badan terasa remuk tapi tetap semangat. Sekitar jam 10:30 kita sudah sampai di Waru Beureum disambut Faqih, Myoo, Mamen, Ongky, dan Abby yang kemarin sudah turun duluan. Di sini kita baru tau kalau ternyata Putra sempet jatuh di tebing, makanya kita diminta untuk putar balik. Atif jadi merasa bersalah udah sms “kita gak rela lo selebrasi makan nasi padang sama rokok sementara kita masih di atas” Begitu sampai di kontrakan Ongky, langsung mandi dan setelah pinjam baju kita rame-rame beli baju untuk ganti di Jatos. Sorenya selepas manghrib kita balik ke Jakarta pake mobil sewaan. Meskipun badan pegal-pegal, tapi jadi ketagihan pengen naik gunung yang lebih tinggi heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s