Politik dan Romantika Keripik Lada

Tahun 90an, oleh-oleh yang terkenal khas dari Bandung pastilah peyeum atau oncom bandung, tahun 2000an brownies dan bolen menguasai pasar, dan memasuki tahun 2011 invasi keripik lada (pedas) merajalela.

Bisa dibilang, naiknya level keripik singkong, gurilem, dan berbagai camilan yang awalnya dianggap makanan kampung jadi jajanan trendy masa kini ini diawali dari sukses keripik merk ‘maicih". Awal perkenalan saya dengan maicih dari salah satu teman di Bandung yang bekerja di sebuah toko buku. Produsen maicih menitipkan produknya di toko buku tersebut.

Seperti kebiasaan masyarakat Indonesia yang sukanya ikut-ikutan, muncullah makanan sejenis dengan macam-macam merk. Ada Seripik Kingkong, Nitnutz, Keripik Gembel. Bahkan di sebuah bazaar clothing di salah satu mall, pengunjung bukannya melihat stand clothing malah sibuk antri beli keripik sampai beredar celetukan “Ini bukan bazaar clothing, tapi bazaar keripik.”

Yang membuat maicih ini beda dari keripik lada lain karena kemasanannya yang menarik dan kadar kepedasan yang dibuat beberapa level sampai level 10 yang paling pedas. Meskipun harganya jauh lebih mahal dari keripik biasa, maicih tetap dicari-cari. Sayangnya, toko buku tempat teman saya bekerja berhenti jualan maicih karena katanya setiap pengunjung yang datang bukannya cari buku, malah cari maicih.

Maicih kemudian mengubah strategi berjualan lewat social media, terutama twitter. Tapi kemudian pembeli jadi bingung kok ada beberapa akun maicih, sama-sama maicih tapi kok beda yah. Salah s

Salah satu akun, sebut saja maicih1 gencar berjualan dengan strategi “gentayangan” alias berpindah-pindah. Penjualnya disebut jenderal. Untuk tahu di mana lokasi jenderal berjualan, bisa dilihat di timeline si maicih1 yang followersnya sudah mencapai puluhan ribu.

Akun yang lainnya, sebut saja maicih2 berjualan pelan-pelan melalui pameran-pameran dan delivery. Maicih2 melebarkan sayap ke daerah dengan mengadakan launching, salah satunya di Jogya sampai memboyong Sarasvati sebagai pengisi acaranya. Si emak yang mengaku gak punya jenderal karena buka tentara itu kemudian menghilang sejenak dan muncul dengan logo dan kemasan baru serta dilengkapi izin Depkes & sertifikat halal.

Kabar angin yang saya dengar dari beberapa teman, maicih sebelumnya dibangun oleh 2 orang bersaudara. Karena perbedaan prinsip, mereka terpecah dan memutuskan untuk menjalani bisnis masing-masing tapi tetap membawa nama maicih. Beda produk, beda kemasan, beda strategi jualan dan promosi sempat membuat pembeli bingung. Apalagi kedua maicih saling sindir menyindir lewat twitter.

Saya sempat mikir, jangan-jangan perpecahan ini cuma strategi promosi. Kalau sampai keluarga pecah gara-gara keripik, lucu kedengarannya. Jadi membayangkan juga, kira-kira kalau lebaran mereka maaf-maafan gak yaah.

Cerita perpecahan ini justru membuat maicih makin bikin penasaran. Bahkan penggemar fanatik si emak mulai membentuk kubu masing-masing. Kalau saya pribadi sih daripada menjatuhkan pilihan karena terpengaruh dengan cerita ini itu, mending coba dua-duanya. Mana yang paling enak, ya saya beli lagi.

Maicih memang fenomena. Mungkin baru kali ini keripik lada bisa launching dengan membayar artis terkenal, atau mensponsori band Indie untuk konser. Mau ambil hati kecengan bisa bawain maicih. Mau jajanin teman-teman tapi bokek, cukup satu bungkus maicih bisa cukup untuk teman 1 kelas karena pasti pada gak kuat makan banyak-banyak. Sayapun memberi dosen pembimbing di kampus satu bungkus keripik maicih sebagai tanda terima kasih atas tandatangan yang dia berikan.

Tapi yang namanya trend pasti selalu bergeser. Tahun ini sampai beberapa tahun ke depan bisa jadi era kejayaan keripik lada, tapi lima tahun lagi entah apa yang jadi oleh-oleh primadoda dari Bandung, mungkin cireng, bandros, atau bisa jadi es goyobod.

nb: eh ini yang punya salah satu maicih tiba-tiba nongol, tapi gamau bilang maicih dia yang lebih enak ah. coba aja sendiri karena kata kecap bango rasa gak pernah boong 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s