Yang Hilang, Yang Berganti

Berapa lama waktu yang kamu butuh untuk sembuh dari luka karena kehilangan orang yang paling disayang? dan berapa lama waktu yang dibutuhin untuk bangkit lagi?

Suatu hari di bulan Mei, saya mendapatkan 2 kabar duka. Pagi hari mbah (kakak dari nenek) saya meninggal dunia di Tanjung Priok, dan sorenya salah satu teman saya yang sudah beberapa bulan terbaring sakit juga dipanggil.

Saya sedih atas meninggalnya mbah,tapi mudah menerima karena beliau memang sudah sepuh dan kali ini saya emang gak mau cerita tentang mbah.Saya mau cerita tentang teman saya, perempuan yang baru berusia 25 tahun.

Teman saya meninggal dunia karena kanker. Kanker yang tiba-tiba menyerang dan dalam waktu singkat (sekitar 2 bulan) merenggut nyawanya. Saya mengenalnya karena dia berpacaran dengan salah satu sahabat saya dari awal kuliah, yang selalu setia menungguinya di rumah sakit setiap hari.

Melihat sahabat saya ini menemani perjuangan kekasihnya melewati masa sakit pastinya menimbulkan rasa simpati siapapun termasuk saya. Gimana ya kalau saya yang mengalami? apa saya mampu? dan saat si gadis meninggal, semua bersedih gak cuma untuk si gadis tapi lebih lagi untuk kekasihnya yang ditinggalkan.

Pikiran ini yang sering muncul di benak saya “Gila,4 tahun bareng sekarang tiba-tiba gak ada, gimana ya rasanya? pasti berat banget. Pasti galau, dan susah untuk membuka hati untuk yang baru”

Pikiran-pikiran itu semua menghilang setelah obrolan suatu malam saat sedang kumpul, salah satu sahabat saya membuka cerita “waktu itu gw kan diajak makan,ditraktir terus dia (nunjuk si kekasih yg ditinggal) bawa si "anu”. Kata si A sama si B mau aja gw disogok, si A ama si B beta banget kayanya"

Si A dan si B adalah 2 sahabat saya yang lain, perempuan. Dengan polos saya tanya “Lho kenapa si A sama si B bete?” Saya tanya ke sahabat cowok saya itu dan dia menjawab dengan wajah pias “Ya mungkin karena terlalu cepat” yang saya sambung lagi dengan pertanyaan, “sejak kapan?”, dan kemudian dia jawab dengan menyebutkan tanggal dengan jarak kira-kira satu bulan setelah kabar duka itu.

Satu bulan, atau bahkan kurang. Itu adalah jawaban yang berlaku bagi sahabat saya atas pertanyaan yang saya lontarkan di awal tadi. Waktu yang saya pikir akan jauuuuh lebih panjang. Apa saya ikut bete? Saya sadar gak berhak untuk bete, dia gak salah kok. Saat ditinggalkan otomatis statusnya single, yang tentu aja berhak 100% untuk punya pacar baru.

Saya emang gak kesal, tapi jujur saya merasa kecele. Jadi rasa simpati saya selama ini ternyata percuma. Pikiran-pikiran aneh mau gak mau akan timbul “apa ini cuma pelarian?” “Apa jangan-jangan selama 4 tahun dia gak benar-benar cinta?”, dan saya sadar saya gak berhak menghakimi seperti itu meskipun cuma dalam hati.

Seorang teman kantor saya, perempuan, usianya sudah 32 dan belum menikah. Dia gak jelek kok,pintar,karier bagus,baik dan solehah. Belakangan saya tau, 7 tahun sebelumnya pacarnya meninggal karena sakit dan dia belum bisa membuka hati lagi.

Apa memang perempuan lebih sulit bangkit dari rasa kehilangan? terlalu dini menyimpulkan cuma dari 1 contoh. Yang jelas, saya berharap kedua teman saya ini bahagia dan menemukan pasangan hidup yang tepat sampai kakek nenek & ajal menjemput 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s