Gunung Gede Punya Cerita

“Sesuatu terasa lebih indah kalau kita meraihnya melalui perjuangan”

Di puncak Gede

Ini cerita tentang trip ke-dua saya bersama teman-teman Backpacker Indonesia, tujuannya: Gunung Gede. Sejujurnya, saya masih agak trauma sekaligus penasaran setelah insiden Gunung Manglayang. Menaklukkan tempat yang lebih sering kita sebut “Bukit belakang sekolah” dibandingkan gunung itu saja sudah kepayahan, apalagi naik Gunung betulan. 

Dari koordinasi via twitter, Agung, Nofi, Adit, Ade, Trysca, Iman, Intan, & Rio (teman Adit) sudah mantap berangkat. Sementara saya, masih ragu karena takut sekaligus dilarang mati-matian sama pacar (yang kelewat trauma gara-gara Manglayang). Menjelang hari H saya harus memutuskan karena sebelum mendaki semua peserta harus mendaftar di Pos Cibodas/Gunung Putri. Akhirnya saya nekat ikut, dengan tekad untuk mempersiapkan keberangkatan dengan maksimal. 

H-2 keberangkatan semua persiapan sudah lengkap. Daypack, sleeping bag, head lamp, ponco semua sudah siap meskipun cuma pinjam dari teman. celana panjang, kaos kaki, sarung tangan, sandal gunung, sampai bekal makanan & obat-obatan semua saya siapkan. 

Jum’at, 29 Juni 2012 pukul 21:00 peserta berkumpul di terminal Kampung Rambutan. Saya sudah membayangkan, yang lain bawa carrier besar-besar sementara saya cuma bawa ransel biasa. Ternyata bawaan peserta lain malah lebih santai, saya yang terlalu over excited :/ 

Lewat tengah malam, kami baru dapat bus menuju kaki Gunung Gede di Cibodas. Ternyata penumpang bus didominasi calon pendaki Gunung Gede yang rata-rata bertampang khas pecinta alam, berantakan & membawa carrier super besar 😀

Waktu perjalanan kami manfaatkan untuk tidur. Perjalanan selama 2 jam tidak terasa, tau-tau kami sudah sampai di Cibodas dan disambut dengan udara super dingin yang menusuk begitu keluar dari bus. Saya langsung ciut. Masih di kaki gunung aja sudah kedinginan, apalagi di puncak nanti. 

Perjalanan dilanjutkan dengan angkot menuju pos awal pendakian. Di sini banyak warung 24 jam yang dilengkapi ambin untuk tidur-tiduran sambil menunggu waktu mendaki. kami beristirahat di salah satu warung sambil mengisi perut dengan makanan dan minuman hangat. 

Usai menjalankan shalat subuh kami memulai pendakian. Saya sudah berpakaian lengkap, jaket tebal, kaos kaki, sarung tangan, kupluk, semua tertutup kecuali bagian wajah. Sebelum mendaki kami harus lapor ke pos dan mendata barang bawaan yang akan meninggalkan sampah. Untuk urusan administrasi Gunung Gede mamang cukup ketat. Kita juga dilarang membawa segala sesuatu yang mengandung sabun. semua bawaan yang mengandung sabun harus dititip di pos. 

Jalur awal pendakian sudah terbentuk seperti undakan dari batu kali. Kalau treknya begini terus sampai puncak sih enak banget, gumam saya dalam hati. Baru sekira sepuluh menit berjalan, kita sudah beristirahat di posko pertama. Setelah beberapa kilometer kami sampai ke objek wisata pertama, Curug Cibereum. 

Curug Cibereum

Perjalanan sampai ke pos curug Cibereum bisa dibilang lancar. untuk menuju curug kami harus melewati jalan menurun sekira 300 meter. puasa foto-foto di curug kami kembali ke pos dan melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan setapak berbatu cuma sampai objek wisata curug, sisanya jalan setapak biasa tapi sejauh ini belum menemukan trek ekstreem seperti di Manglayang. 

Menjelang tengah hari kami sampai di objek wisata air panas. Kami harus jalan menggunakan tali melewati air terjun air panas, meskipun sedikit takut berjalan di sisi jurang, kami ga lupa narsis-narsisan foto-foto di tengah air terjun. 

Perjalanan dilanjutkan menuju Camp Kandang Badak. Kali ini tenaga sudah mulai terkuras, daan ngantuk *karena baru tidur di bus selama 2 jam. sepanjang perjalanan saya menawarkan makan dan minum ke teman-teman, maksud hati supaya beban cepat berkurang hehe. Saking lengkapnya bawaan cemilan & obat-obatan saya sampai disebut “Indomaret berjalan”. 

Dengan pola berjalan 2 menit jalan, 3 menit istirahat (sampai ketiduran di tengah jalan segala) kami sampai di Kandang Badak sekira pukul 14:30. Camp sudah ramai dengan pendaki lain. kami dapat spot di pojok untuk mendirikan 2 tenda yang kami bawa. Sebagian besar pendaki Gunung Gede nge-camp di Kandang Badak karena di area ini tersedia sumber air bersih dan toilet darurat (saya sebut darurat karena bentuknya cuma seng diantara semak-semak :p).

Usai mendirikan tenda dimulailah sesi masak memasak. Menu kali ini tempe goreng mentega & mie goreng. Udara dingin & kebersamaan membuat masakan sederhana ini menjadi makanan yang paling nikmat (yaiyalah ga ada pilihan lain hehe). Sore dan malah hari kami isi dengan mengobrol dan main UNO. Kalau ditanya apa aktivitas yang paling bisa membentuk keakraban antar teman, pasti saya jawab Naik Gunung. 

Pukul 8 malam kami sudah siap-siap tidur, dengan setelan pakaian berlapis-lapis untuk melawan angin gunung. Rencana pendakian ke puncak dimulai pukul 02:00. Menjelang pukul 02:00 tidur saya mulai kurang nyenyak. Saya lihat yang lain, kok masih anteng-anteng aja ya. saya coba bangunkan tapi semua tetap nyenyak. Alhasil, kita semua kesiangan sampai pukul 03:30 😀 

Tidak lama setelah bangun, tanpa pemanasan kami langsung tancap gas menuju puncak. Mungkin karena tubuh saya kaget, saya merasa super duper lemas dan jantung berdegup sangat kencang. Baru beberapa puluh meter saya sudah kepayahan. Beruntung, teman-teman lain selalu memberi semangat. 

Setelah 2 jam mendaki dengan penuh perjuangan, kami sampai di trek yang terkenal dari Gunung Gede: Tanjakan maut. Pikiran saya langsung menerawang “Hmm, oke jadi ini yang namanya tanjakan maut. kalau dibandingkan dgn Gunung Manglayang, bisa dibilang sepanjang pendakian Manglayang adalah tanjakan maut”. 

Meskipun agak curam, tanjakan maut sudah dilengkapi tali bantuan sehingga kami tidak terlalu sulit melewatinya. Beberapa meter setelah melewati tanjakan maut, Rio menoleh dan berteriak kepada saya sambil menunjuk ke belakang “Liat mbak, sudah kelihatan lampu-lampu kota, ayo semangaat!!!”. Saya langsung menoleh, dan Subhanallah indah sekali pemandangan di belakang saya. Lampu-lampu kota ditambahkan semburat cahaya matahari terbit yang masih malu-malu. Semangat saya yang awalnya drop mulai naik lagi. 

Tidak lama kemudian puncak Gede mulai terlihat, bersamaan dengan terbitnya matahari. Saya terharu dalam hati sampai hampir meneteskan air mata *bener lho ini bukan lebay hehe. Kami langsung selebrasi dengan, gak lain dan gak bukan foto-foto pastinya. Ternyata banyak juga pendaki yang nge-camp di puncak. Kebayang dinginnya udara malam di sini. 

Ada satu hal yang unik di Gunung Gede, ternyata di sini kita dengan mudahnya menemukan abang tukang nasi uduk. Beneran, nasi uduk. Saat ramai pendaki, para pedangan nasi uduk rela mendaki untuk berjualan. Subhanallah berat banget ya perjuangan mencari uang, pikir saya dalam hati. Nasi uduk dengan porsi satu centong dilengkapi irisan telur rebus ini dibandrol Rp 6.000. Dari segi rasa sih lebih mirip nasi kuning kekurangan bumbu. Diterpa udara super dingin di puncak membuat nasi uduk jadi ikutan dingin, karena itu saya sebut “Es nasi uduk”. 

Sayang, puncak Gunung Gede cuma bisa saya nikmati dalam waktu singkat. Saya memandang takjub ke arah puncak Pangrango, lembah Mandalawangi. Teringat adegan-adegan di film “Gie”. Pukul 08:00 kami siap-siap kembali ke camp, tanpa sempat ke Alun-alun Surya Kencana karena tidak mau terlalu lama meninggalkan Trysca & Intan yang tidak ikut ke puncak. 

Terima kasih Ade, Intan, Trysca, Nofita, Agung, Iman, Adit, & Rio yang sudah berbagi pengalaman berharga ini. Sampai ketemu di Trip selanjutnya 🙂 

Kandang Badak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s