Dongeng Pertamaku

Horeee kantor baruuu… 

Karena belum pegang project sendiri, tugas pertama bantu temen mengelola fanpage yang isinya dongeng. Dongeng bisa diambil dari mana aja, tapi karena bingung mana yang udah & mana yang belum jadi coba buat dongeng sendiri. Ini dongeng pertama seumur hidup yg gue buat heheheh :p

Belli si Belalang Pemalas

 

Belli adalah seekor belalang yang malas, setiap hari kerjanya hanya tidur siang di atas ranting pohon. Saat musim panas teman-teman Belli sibuk membuat sarang dan  mengumpulkan makanan untuk persediaan musim dingin. Bukannya ikut bekerja, Belli malah hanya melihat-lihat dan mengejek “Hai kalian, ayo kerja yang rajin supaya aku bisa minta makanan kalian hihihi”

Makin lama teman-teman belalang tidak suka dengan sifat Belli. Mereka mulai menjauhi Belli dan kesal. “Hi Belli, kalau kau terus malas begitu musim dingin nanti kami tidak akan berbagi makanan dan sarang yang hangat denganmu” Kata Jerry Jangkrik

Belli mulai cemas, tetapi ia tidak bisa membayangkan harus bekerja keras seperti teman temannya. Ia kemudian mengunjungi Kimbo si Kumbang yang terkenal sakti. “Hai Kimbo, tolong aku. Apakah ada cara untuk mendapat apapun tanpa harus bekerja?” tanya Belli

“Hmmm…” Kimbo menggumam dengan suara berat. “Malam ini malam bulan purnama, pergilah ke puncak bukit saat tengah malam. Saat bulan tepat berada di atas, dan terdengar suara lolong serigala, sebutkan 3 permintaan maka permintaanmu akan terkabul"  Jelas Kimbo.

Belli tersenyum senang "Horee, aku akan jadi belalang paling kaya. Aku akan minta makanan yang banyak, sarang yang indah, dan pakaian yang bagus-bagus” ujarnya senang sambil mempersiapkan diri menuju puncak bukit.

Sore hari Belli mulai perjalanan menuju bukit, ia melompat-lompat dengan semangat. Menjelang tengah malam ia belum sampai ke atas puncak. Belli mempercepat langkahnya. Karena terburu-buru dan kakinya tersangkut di ranting kecil. Ia berusaha menarik kakinya tetapi suli & malah menimbulkan luka.  “Aaaaa, sakit sekali kakiku” tangisnya.

Bulan semakin berada di tengah, dan tiba-tiba terdengar lolongan serigala. Karena terlalu kesal dengan kakinya Belli berteriak “Dasar kaki sialan, kalau begini lebih baik aku tidak punya kaki” umpatnya. setelah mengucapkan kata-kata tersebut tiba-tba kaki Belli menghilang. “Aaaa, kemana kakiku? Ia mulai menangis. Lolongan serigala semakin kencang.

Belli panik, ia berteriak lagi "Daripada tidak punya kaki, lebih baik aku punya kaki yang banyak”. Tiba-tiba kaki Belli muncul lagi, tetapi bukan cuma satu atau dua. Kaki Belli terus dan teruus bertambah hingga hampir menyerupai kaki seribu. Bellipun semakin panik dan tangisnya semakin kencang bersahutan dengan suara lolongan serigala.

Belli berteriak lagi “Kembalikan tubuhku seperti semula” katanya. Seketika satu persatu kaki Belli mengilang hingga hanya dua kaki yang tersisa. Belli berhenti menangis dan merasa lega. Bulan semakin tertutup awan dan serigala berhenti melolong. Belli teringat akan tiga permintaannya. Terlambat, Belli telah kehilangan kesempatan karena terlalu emosi, ketiga permintaannya sudah ia gunakan secara tdak sadar. Bellipun menyesal karena ketamakan dan kemalasannya. Ia segera bergegas kembali dan berjanji tidak akan malas lagi. 

Petualangan ke Curug Malela

Ada yang tau Curug Malela? Wajar kok kalo gak tau, saya juga baru tau waktu salah satu teman di BPI ngajak trip ke sana sebelum bulan Ramadhan tahun ini. Saya langsung googling, dan ternyata sedikit sekali informasi tentang curug yang disebut sebagai Niagara mini ini. Curug yang terletak di Kabupaten Bandung Barat ini bahkan gak ada di Google Maps. Pheew…

Karena kesibukan masing-masing anggota, trip Curug Malela akhirnya batal. Tapi setelah lebaran saya yang baru jadi pengangguran dan kebetulan sedang ngadem di Bandung akhirnya ngajak pacar ke sana. Malam sebelum keberangkatan saya googling lagi trek perjalanan ke Malela. Kalau kata orang-orang yang sudah pernah ke sana sih treknya berat dan jauh, jadi harus benar-benar siap fisik & mental. 

Rencana berangkat jam 6 pagi akhirnya ngaret sampai jam 11 siang (ya maklum pacar saya paginya jam 11 :D). Kalau menurut Google Maps sih perjalanan dari Jalaprang ke Gunung Halu kira-kira satu jam lebih sedikit. Perjalanan dimulai dari Jalaprang menuju Padalarang, kemudian belok ke arah Cililin. Di pertigaan sudah ada petunjuk arah menuju Curug Malela, saya langsung girang karena mengira si curug sudah dekat. 

Ternyata dugaan saya salah. Perjalanan ke Cililin saja butuh waktu lebih dari satu jam. Dari Cililiin lanjut ke Gunung Halu juga makan waktu lebih dari satu jam, dengan jalan berkelok kelok mendaki gunung lewati lembah. Setelah lewat Kecamatan Gunung Halu, melewati perkebunan teh, kita baru sampai di Kecamatan Rongga, tempat Curug Malela berada. Jangan bayangkan besarnya kecamatan di daerah gunung sama dengan di Koa Besar, satu kecamatan kayaknya bisa seluas kota Bandung. Jadi, sudah sampai Rongga pun Malela ternyata masih jauh, hahahah

Makin dekat dengan Curug Malela, jalanan mulai jelek macam jalur off road. Meskipun jalannya terpencil, gak perlu khawatir nyasar karena banyak petunjuk arah ke Curug Malela. Setelah hampir 4 jam perjalanan akhirnya sampai juga ke pintu gerbang objek wisata Curug Malela. Mungkin karena bukan hari libur, pintu gerbang tidak dijaga, jadi saya masuk gratis deh *bayar juga cuma Ro 2.000 sih katanya :D. 

Ternyata saya ketipu lagi. Jarak antara gerbang dan lokasi curug juga cukup jauh. Sampai di tempat parkir ada 2 warung bambu yang cukup sepi. Cuma ada beberapa motor yang terparkir di depannya. Setelah memarkir motor kita harus jalan kaki menurun lewat jalan setapak dan pematang sawah kira-kira 2 km. Dari jalan setapak sudah terlihat curug yang terletak di lembah. Saya langsung action foto-foto. 

Akhirnya setelah perjalanan yang cukup melelahkan dan pinggang pegal-pegal, Curug Malela membentang di hadapan saya. Dengan semangat saya melompati batu-batu, pengen nyebur liat air yang gemericik. Semangat saya langsung drop begitu mendekat ke air, ternyata airnya agak hijau berbusa, dan banyak sampah :(((((((. Mungkin karena bukan hari libur pengunjung hari itu sangat sepi, cuma ada beberapa cowok yang sedang berenang. hueek, mual membayangkan berenang di air limbah. Saya cuma duduk di batu besar sambil foto-foto, memandang lereng-lereng gunung di sekitar curug & burung Elang yang melintas. 

Karena takut kemalaman, baru setengah jam di Curug kita harus buru-buru kembali ke Bandung. Nah, perjalanan naik ke tempat parkir ini yang sangat melelahkan, nanjak sampai ngos-ngosan dan keleyengan. Begitu sampai, baju sudah basah karena keringat. Baju yang disiapkan untuk ganti setelah berenang akhirnya dipakai ganti karena basah keringat. 

Hari mulai gelap saat perjalanan menuju Bandung, saya tergoda melihat kios-kios yang menjual gurilem di Cililin. Harga sebungkus besar gurilem cuma Rp 2.000, kebayang berapa keuntungan gurilem dengan merk terkenal di Bandung. Saya langsung borong untuk oleh-oleh. 

Jam 8 lewat kita baru sampai di Bandung. total hampir 8 jam perjalanan untuk menikmati Curug Malela selama setengah jam saja -____-. Curug Malela memang lebih cocok untuk pejalan yang suka berpetualang, jadi bisa menikmati perjalanannya juga. Untuk yang gak sabaran mending tunggu dibangun Helipad baru main ke sini 😛