Menikmati Kebahagiaan

Saya sedang menunggu bisa pulang di depan Hotel Peninsula Slipi Jaya dengan muka masam saat sebuah mobil setengah kereta lewat. Odong-odong, begitu kendaraan ini biasa disebut, disesaki penumpang mulai dari anak-anak sampai dewasa yang sebagian besar berwajah ceria (entahlah mungkin ada yang masam juga seperti saya, tapi saya gak lihat).

“Ih ngapain mereka, jalan-jalan naik odong-odong di tengah kota yang penuh asap begini” gumam saya. Saya udah malas banget harus lewat jalan ini tiap hari, kok mereka malah menjadikan ini rekreasi. Ternyata pemandangan odong-odong ini gak cuma sekali saya lihat, tapi terus berulang dengan wajah penumpang yang masih sama cerianya. 

Sampai akhirnya sebuah obrolan dengan bapak saya mengantar saya menceritakan kejadian odong-odong ini. “Gak papa, mereka lagi menikmati kebahagiaan” kata bapak saya. Ya, mereka menikmati kebahagiaan dengan berkeliling melihat kota, melihat gedung tinggi yang mungkin gak pernah mereka berani masuki, melihat mobil mewah berseliweran yang bagi mereka cuma bisa dilihat ga bisa dinaiki.

Itulah kebahagiaan, sesederhana itu. mereka bahagia dengan naik odong-odong, yang menurut kita aneh. kita mungkin bahagia setengah mati dengan bisa jalan-jalan ke luar negeri tapi kata para konglomerat norak banget lha wong mereka bisa bolak balik ke sana tiap hari selama ada jadwal penerbangannya.

Bahagia itu milik semua orang, selalu ada di sekitar kita untuk siapa saja yang jeli melihat kehadirannya. kita bisa bahagia dengan main di Disneyland, di Dufan, atau di Pasar Malam sekalipun 🙂 

Jakarta, 7 Jun 2013

Fakir wifi sevel Tosari