Ibu yang Baik Itu yang Seperti Apa?

Tuhan sangat sayang sama saya. Saya berharap bisa langsung hamil setelah menikah karena usia sudah hampir menginjak kepala 3, dan saya mendapat 2 garis merah di testpack saat masih dalam euforia bulan madu, hanya 1 bulan setelah pernikahan. Saat itu saya baru pindah ke Bandung, meninggalkan pekerjaan di Jakarta & alih profesi jadi ibu rumah tangga.

Kehamilan saya berjalan sangat menyenangkan. Gak ada mual, gak ada muntah, dan dokter selalu mengatakan kondisi janin sehat & normal. Saya makin bahagia setelah hasil USG menunjukkan anak saya laki-laki, seperti harapan saya sejak dulu yang gak punya saudara laki-laki. Meski tidak sibuk bekerja tapi saya tetap aktif jalan-jalan. Saya & suami sempat liburan ke pantai Batu Karas di usia kehamilan 4 bulan & ke Bali di usia kehamilan 6 bulan.

Foto beberapa hari sebelum melahirkan

Semua berjalan sangat baik sampai tiba waktunya melahirkan. Karena HPL menjelang Idul Fitri, saya dan suami memutuskan untuk melahirkan di bidan dekat rumah orangtua suami. Kami kemudian memilih klinik Bidan Pudji, bidan yang membantu kelahiran 5 anak ibu mertua termasuk suami saya. Hanya 2x periksa sebelum melahirkan, saya melahirkan secara normal dibantu oleh Bu Bidan & satu asistennya. Kelana lahir dalam kondisi sehat, berat badan 3,6kg & panjang 50cm. Ia  menjadi hadiah Lebaran yang paling indah. Seluruh keluarga saya berkumpul di Bandung. Semua bahagia menyambut anggota keluarga baru.

Kelana berusia 3 hari

Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Begitu Kelana lahir, Bidan langsung membimbing untuk IMD. Masalahnya saya memiliki flat nipple dan selama hamil saya gak notice. Flat nipple membuat bayi kesulitan meletakkan mulutnya & menghisap ASI. Asisten Bidan membantu membuatkan alat penghisap seperti mainan suntikan.

Selang 1 malam kami pulang dari klinik. Untuk sementara kami tinggal di rumah orangtua suami supaya banyak yang membantu mengurus Kelana & juga sekalian merayakan Idul Fitri bareng. Selama 1 mingu pertama Ibu saya masih stay di Bandung menemani saya.

Cerita begadang di minggu-minggu pertama menjadi orangtua baru sudah biasa saya dengar, tapi perjuangan memberi ASI benar-benar belum saya siapkan sebelumnya. Menghadapi bayi yang sedikit-sedikit bangun minta nyusu, baru ditaro di kasur & ibunya tarik selimut eh bangun lagi sudah cukup melelahkan, tapi ini ditambah rasa sakit luar biasa karena nipple yang luka sampai becucuran darah saat bayi menyusu. Saya sampe migrain karena nahan teriak tiap menyusui, tapi saya ga menyerah demi cita-cita punya bayi lulus S3 ASI.

Sampe tidur dengan posisi duduk karena bayi ga mau lepas

Saya coba pakai nipple cream untuk mengobati lecet, tapi tiap lukanya sedikit mengering disusuin lagi jadi lecet lagi (Belakangan saya tahu dari dokter kalau obat terbaik mengolesinya dengan ASI, bukan dengan nipple cream atau semacamnya). Dicoba untuk gak disusuin dulu sebelah sampai lukanya sembuh, tapi saya malah mastitis alias radang. Rasanya luar biasa, panas dingin campur nyeri.

Saya makin down saat Kelana dibawa kontrol ke Bidan seminggu kemudian dan ternyata berat badannya gak naik, malah turun 2 ons. Penjelasan dari dokter dan bidan,  bayi baru lahir memang cenderung banyak kandungan airnya, jadi normal kalau di mingggu awal beratnya turun. Ok, saya merasa optimis kembali.

Minggu kedua kondisi ga semakin membaik. Luka nipple makin parah, bahkan kliatan terpotong sampe saya sebut mulut Pacman yang menganga (maaf kalau geleuh, tapi kenyataannya memang begitu :(). Kelana kelihatan makin kurus, padahal terus terusan menyusu. Dokter menyarankan untuk memerah & memberi ASI dengan pipet dengan jumlah & jadwal teratur. Di sinilah saya sadar kalau ternyata ASI saya sangat sedikit. Semenjak  mastitis berlanjut dengan diare, jumlah ASI saya berkurang drastis.

Saya makin khawatir karena Kelana gak p**p selama seminggu. Dia bisa p**p setelah dibawa ke dokter & dipancing dengan cairan yang disuntikan lewat anus. Dokter bilang kadang ada kondisi bayi gak poop sampai 2 minggu karena nutrisi ASI diserap sepenuhnya, yang penting tetap pipis teratur.

Segala usaha saya coba mulai pijat paraji, konsultasi ke beberapa dokter & konsultan laktasi, minum suplemen & booster,  gak berhenti makan sampe kembung. Makanan yang awalnya saya ga doyan pun saya makan, daun katuk rebus sampe saya gadoin. Saya tetap pegang cita-cita awal: Kelana lulus sarjana S3 ASI, no sufor. Karena takut bayi kuning saya sampe minta donor beberapa botol ASIP ke teman, dengan harapan cukup donor sekali sampai ASI saya banyak.

Hasil diagnosa dokter katanya saya strees. Saya gak memungkiri stress sudah saya rasakan semenjak hamil, karena perbedaan kondisi dari perempuan single pekerja di Jakarta jadi Ibu rumah tangga di kota lain. Saya merasa kehilangan rutinitas yang menyenangkan, ga punya teman, gak punya penghasilan. Saya gak bisa menerima kenyataan, termasuk kenyataan bahwa ASI saya ga mencukupi kebutuhan nutrisi Kelana.

Tinggal di rumah mertua yang saya belum terlalu dekat juga menjadi tekanan tersendiri. Saya jadi sensi, niat baik aja bisa bikin saya berfikiran negatif. Segala macam alasan muncul untuk ninggalin rumah sampe suara berisik kendaraan & tukang tahu bulat aja bikin saya pengen kabur rasanya.

Keluarga sudah menyarankan pemberian sufor untuk Kelana, tapi saya tetap menolak sampe berat Kelana benar-benar turun drastis di minggu ke4, sampai 3,1 kg.  Saya makin tertekan saat ada komentar “kok beda, di foto pas baru lahir keliatan chubby”, bingung kalau mama minta dikirimin foto takut keliatan Kelana kurus. Tiap liat wajahnya yang tirus rasanya  mau nangis sekencang-kencangnya.

Setelah itu saya berfikir kok saya egois banget ya, pengen jadi ibu yang baik tapi malah nyiksa anak. Saya mulai berdamai dengan keadaan & memutuskan  memberi Kelana sufor untuk menambah nutrisi. Saya lupakan semua jargon-jargon anti sufor, saya lupakan kekhawatiran pandangan teman-teman yang pro ASI kepada saya nanti. Alhamdulillah berat badan Kelana perlahan mulai naik. Pokoknya saya tanamkan di pikiran analoginya kalau sayuran & buah sedang langka ya ga ada salahnya deh makan junk food daripada kelaparan.

Saya jadi Ibu pro sufor? engga kok. Saya masih setuju bahwa ASI adalah nutrisi terbaik untuk bayi. 2 tahun saya pernah jadi freelancer memegang brand susu bayi & anak, yang juga memproduksi sufor yang dikonsumsi Kelana saat ini, saya paham betul bahwa WHO bahkan sudah mengeluarkan WHO Code yang melarang segala bentuk promosi susu formula untuk anak di bawah 1 tahun. Hanya dokter yang boleh menyarankan pemberian sufor, itu pun harus memiliki alasan kuat seperti kondisi ASI ibu yang kurang.

Pun saya masih berusaha menyusui semaksimal mungkin sampai sekarang, tapi kejadian-demi kejadian tersebut membuat saya lebih toleran dan tenggang rasa dengan diri saya sendiri dan sesama Ibu lainnya. Saya yakin semua Ibu ingin memberi yang terbaik untuk anaknya. Tapi ukuran Ibu yang baik itu seperti apa sih?

Cerita perdebatan Ibu bekerja VS Ibu Rumah Tangga, ASI Eksklusif VS Sufor, lahiran normal VS Cesar masih belum basi sampai saat ini. Semua kembali ke pilihan masing-masing, tergantung kemampuan & kapasitas diri. Yang saya sayangkan, pilihan tersebut kemudian membuat seseorang jadi merasa lebih dari orang lain yang berbeda darinya.

Masih segar di ingatan saya saat 4 tahun lalu baru megang brand susu yang sebelumnya saya sebut. Saya sempat mempromosikan FB page produk susu yang saya maintain di group WA berisi teman-teman yang sebagian sudah menjadi Ibu. Jawaban yang saya dapat adalah “Lo gak salah Ry promoin *** di sini? Di sini kan isinya Pro ASI semua”. Kemudian saya jelaskan bahwa page yang saya pegang isinya bukan kampanye sufor dan brand sudah menjalankan WHO Code tentang larangan promosi Sufor.

Munculnya banyak komunitas dan group pro ASI sangat positif menurut saya, mereka bisa jadi wadah sharing, edukasi, & motivasi. Tapi lama kelamaan kok saya merasa banyak oknum yang jadi cenderung “Galak” dan menghakimi. Pernah saya lihat postingan teman laki-laki di facebook sedang memberi susu lewat dot ke bayinya, postingannya langsung banjir komen memojokkan “Gak dikasi ASI?” “Kok bayinya dikasih dot?”

Saling nyinyir antara Working mom & Stay at home mom juga ga ada habisnya. Saya sekarang kembali kerja ya karena butuh, butuh aktualiasasi diri di luar rumah & butuh income juga. Saya gak bisa menjanjikan kalau diam di rumah saya bisa jadi Ibu lebih baik dari saat ini, bisa jadi saya makin stress & sensi dan berakibat buruknya terhadap sikap saya kepada anak. Ini untuk saya pribadi lho ya, bagi Ibu lain yang merasa suami sudah cukup menafkahi keluarga & lebih merasa happy di rumah ya monggo, silahkan.

Dulu saya amaze dengan Ibu-ibu yang memamerkan stock ASIP yang penuh satu freezer, saya sering tanya ke teman yang mau atau baru lahiran “Normal atau Cesar?”, saya sangat terpengaruh dengan content per-Ibu-an di social media. Sekarang saya merasa semua ga terlalu penting. Mau ada yang pamer ASI satu container ya silakan, itu rejeki mereka. Saya ga perlu sedih karena meski ASI sedikit saya masih bisa memberi kasih sayang dalam bentuk lain. Mau lahiran normal atau cesar, Ibu tetaplah Ibu. Saya ga habis pikir ada orang yang bilang “Untuk jadi Ibu seutuhnya harus lahiran normal”, sembarangan wong saya dengar cerita teman-teman yang cesar sama juga kok merasa sakit, lagian kalau kondisi medis gak memungkinkan untuk lahir normal kita bisa apa?

Bahkan timeline IG Mbak penyanyi inisial A yang bikin heboh karena dianggap lebay & unrealistic juga cukup saya tanggapi “Bodo amat ah, ga ngaruh sama hidup gw”. Yang positif bisa kita jadikan motivasi & inspirasi, kalau ada yang nyinyir anggap aja angin lalu. Misal working mom nyinyir sama Stay at home mom, anggap aja sirik karena waktunya sama anak ga sebanyak mereka, sebaliknya kalau stay at home mom nyinyir sama working mom, anggep aja sirik karena kurang aktualisasi diri di luar rumah jadi cari perhatian hehehee. Intinya mah yang nyinyir cuekin karena dipikirin juga ga ada bayarannya 😛

Jadi Ibu bukan ajang kompetisi, tapi sesuatu yang harus kita jalani dengan sepenuh hati. Saling memberi saran & motivasi sangat saya anjurkan, tapi kita harus sadar perjuangan & cobaan tiap Ibu berbeda-beda, kita ga perlu mengejar standar tertentu atau menghakimi Ibu lain yang mempunyai standar beda sama kita.

Jadi, Ibu yang baik itu yang seperti apa? Menurut saya, Ibu yang baik adalah Ibu yang bahagia, yang bisa membahagiakan keluarga dan membesarkan anak jadi pribadi yang bisa membahagiakan orang lain.

7 thoughts on “Ibu yang Baik Itu yang Seperti Apa?

  1. Shaami says:

    Hahaha nice Ury!
    Emang kayanya perjuangan, suka duka bahagia deritanya new mothers kurang lebih aja, ya. Yang diributin juga itu lagi itu lagi 😂

    Semangat selalu dan bahagia selalu dalam ngurus Kelana, Urceu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s