Membuat Kacamata Menggunakan BPJS Kesehatan

Sebenarnya sih saya memang sudah berkacamata sejak 7 tahun lalu. Kacamata yang dibeliin si Yayah jaman pacaran di ABC, dikasiin sepulang nonton konser Dashboard Confessional (gratisan karena saya kerja di radio). Setelah sebelumnya ada drama saling cari-carian di Senayan karena si Yayah telat baru sampe pas konser udah bubar, padahal udah bela-belain nyusul naik travel dari Bandung. Lupa lagi kenapa ga bisa kontak-kontakan pokoknya ada hubungannya sama nomer hp esia yang kudu register kalo mau keluar kota. Saya sampe muterin GBK nebeng sama abang-abang tukang minuman & pinjem hpnya buat nelpon. Untung ketemu temen yang rumahnya deket situ & bisa ngontak si Yayah jadi kita bisa ketemu. Ditebengin lah kami sampe perempatan Slipi, kemudian diserahkanlah surprise kacamata itu di sebuah dipan pangkalan ojeg sambil nunggu bus ke Cawang tepat tengah malam. Saya langsung cobain & begitu ngeliat ke marka jalan langsung bergumam “waah cerahnya dunia ini”.

Oke maap jadi ngelantur, ngomongin kacamata bikin inget kenangan lucu tadi. Singkat cerita kacamata itu saya pake selama 3 tahun sampai salah satu lensanya lepas. Waktu itu minusnya cuma 0,5 kanan kiri jadi gak terlalu masalah kalau gak pake. Lama-lama kok saya merasa minusnya nambah. So, saya berniat untuk buat kacamata baru waktu masih kerja di agency di Jakarta 3 tahun lalu. Subsidi dari kantor untuk kacamata ada 80% dari total harga kacamata dengan plafond maksimal Rp 1,2 jt (penggantian maks Rp 960,000). Niat hanyalah niat, sampe saya resign belum sempet juga bikin kacamatanya.

kacamata

Kacamata yang Penuh Drama Itu

Setahun kemudian saya ngantor di Bandung ada juga fasilitas kacamata tapi cuma Rp 300,000 dari asuransi Sinarmas. Udah kumpulin niat juga untuk bikin, tapi gak jadi juga sampe resign lagi. Akhirnya di kantor yang sekarang bulatin tekad untuk bikin karena kerasa banget minusnya makin nambah, tiap meeting gak jelas lihat ke layar bahkan kesulitan baca bahan presentasi sendiri :))

Di kantor saya sekarang gak ada fasilitas asuransi swasta, adanya BPJS kesehatan. Sebelumnya saya & keluarga punya BPJS pribadi yang kelas I, tapi setelah ngantor di sini pindah BPJS Perusahaan jadi kelas 2.

Berikut nilai fasilitas kacamata peserta BPJS:

  • Kelas I senilai Rp 300,000
  • Kelas 2 senilai Rp 200,000
  • Kelas 3 senilai Rp 150,000

Artinya bukan berarti kita harus membeli kacamata senilai tersebut (gak ada juga sih kacamata harga segitu jaman sekarang :p), tapi berupa subsidi dari total harga kacamata. Fasilitas tersebut bisa diambil 2 tahun sekali dan hanya berlaku untuk pembelian kacamata dengan ukuran berikut:

  • Lensa spheris, minimal ukuran 0,5 dioptri
  • Lensa silindris, minimal 0,25 dioptri

Proses klaim fasilitas kacamata kurang lebih sama dengan cara berobat ke dokter specialist:

1. Minta Pengantar ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (Faskes 1)

Peserta harus datang dulu ke Faskes 1 untuk minta surat pengantar ke dokter specialist mata dengan membawa Kartu BPJS asli & copy KTP. Sabtu, 26 Mei 2018 saya datang ke Puskesmas Sekejati pukul 9:30. Setelah antri selama 1 jam lebih sampe anak saya pulang duluan karena poop, saya masuk ruang dokter. Dokter menanyakan keluhan & tujuan, kemudian saya ditensi. Hasil tensinya rendah, padahal biasanya selalu normal. Kata dokter bisa karena faktor begadang atau perut kosong. Kebetulan saya lagi gak puasa tapi paginya gak sarapan. Dokter menyarankan kalau periksa mata harus dalam kondisi fit karena kondisi badan kurang fit bisa mempengaruhi penglihatan.

pengantar

Surat Pengantar dari Puskesmas

2. Periksa ke Dokter Specialis Mata

Jadwal dokter mata di RS Rujukan, RS Al Islam Bandung pukul 10:00 sd 12:00 & pukul 14:00 sd 15:00. Keluar dari Puskesmas sudah hampir pukul 11:00, saya pulang ke rumah untuk makan dulu (kan kata dokter harus fit), baru lanjut ke RS Al Islam. Biasanya dokter specialist di RS Al Islam selalu penuh, bahkan ada yang ambil antriannya dari subuh. Tapi sesuai dugaan saya, dokter specialist mata pasti gak akan sepenuh yang lain jadi pukul 11:30 saya sampai RS masih bisa dilayani.

Saya mendaftar di counter khusus peserta BPJS dengan menyerahkan surat pengantar dari puskesmas. Harusnya menyertakan kartu BPJS asli tapi karena kartu BPJS ketinggalan di rumah setelah pulang dari puskesmas tadi, jadi saya diminta KTP asli aja sebagai gantinya. Gak lama nunggu saya langsung ditangani oleh dokter & asistennya yang memeriksa pakai alat yang biasa ada di optik & test membaca jarak jauh pakai kacamata yang diganti-ganti lensanya. Hasil testnya ternyata saya sudah minus 1 kanan kiri.

Setelah diperiksa saya mendapat resep kacamata lengkap dengan daftar optik yang bekerjasama dengan BPJS.

daftar optik

Oiya, menurut beberapa artikel yang saya baca, resep ini harus dilegalisir oleh pihak BPJS & di beberapa RS ada petugas BPJS yang standby untuk legalisir resep. Karena waktu di RS saya gak diinfo apa-apa & langsung diminta ambil KTP di counter Rawat Jalan, jadi saya abaikan aja masalah legalisir ini.

3. Kunjungi Optik yang Ditunjuk

Dari daftar optik yang bekerjasama, saya pilih yang jaraknya paling dekat yaitu di Optik Niko, Kiaracondong. Sepulang dari RS saya langsung menuju optik supaya beres hari itu juga. Kondisi optiknya sederhana banget sih, gak kaya optik di mall-mall, tapi pilihan frame & lensanya cukup banyak mulai harga Rp 200ribuan untuk frame & Rp 150ribuan untuk lensa.

niko optik

Niko Optik, Kiaracondong

Kita juga dibolehkan untuk bawa frame dari luar. Sebenernya malam sebelumnya saya mampir ke optik Melawai & naksir frame merk Bolon, saya berharap ada yang sama atau minimal modelnya sama meski beda merk tapi ternyata gak ada. Sempet mikir mau beli frame di Melawai itu aja, tapi kata mas petugasnya kalau frame dari luar harus dilihat dulu masih ada sedikit kemungkinan  lensanya ga bisa menyesuaikan jadi yaudah saya pilih dari yang ada aja daripada sia-sia usaha ke Puskesmas & Rumah Sakit. Singkat cerita saya pilih Frame merk Cyber & Lensa Crizal dengan total Rp 1,270,000 (beda jauh si yang Bolon 1,4jt framenya aja). Dipotong subsidi BPJS Rp 200,000 jadi yang harus saya bayar Rp 1,070,000 alias subsidinya hanya 15% saja.

Proses pembuatan kacamata bisa ditunggu, tapi karena butuh proses legalisir & saya juga gak bawa kartu BPJSnya, saya diminta untuk ambil hari Senin aja dengan bayar DP Rp 300,000. Jadi ternyata proses legalisir resepnyanya dibantu oleh pihak optik. Hari senin saya diminta datang membawa copy kartu BPJS dan uang pelunasan.

Semua proses yang harus dijalani gak sulit kok, yang penting kita ikuti prosedur. Untungnya bisa dilakukan di hari Sabtu, kalau harus cuti atau sampai potong gaji gara-gara bolos, ditambah kalau legalisir resep sendiri ke kantor BPJS ya tekor deh subsidi Rp 200,000-nya gak nutup ongkos & waktu yang dikorbankan. Eh sebenernya emang gak terlalu worth it sih, tapi lumayan jadi bisa nulis artikel ini kaan 😀

kacamata jadi

Udah keliatan smart belum? 😀

 

2 thoughts on “Membuat Kacamata Menggunakan BPJS Kesehatan

  1. enny says:

    benar mba, saya juga sudah tebus beli kacamata melalui bpjs tahun ini. tapi sayangnya setelah ditebus eh beberapa bulan kemudian patah dimainin anak hiks, jatahnya masih dua tahun lagi terpaksa deh kocek kantong sendiri 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s