#AksiSehatCeria: Cara Ceria Hidup Sehat

Teman-teman di social media mungkin ngeh belakangan ini saya lagi semangat-semangatnya share tentang kegiatan olahraga. Mau share di blog tapi belum sempat nulis, eh kebetulan lihat post di instagram Dokter Sehat lagi ada lomba blog #AksiSehatCeria, langsung semangat nulis gara-gara ada kata “ceria”-nya haha.

Sebenarnya saya sudah tertarik dengan pola hidup sehat semenjak meng-handle sebuah brand cemilan sehat di tahun 2013. Saat itu saya sering sekali mengadakan  aktivitas seputar pola hidup sehat, membuat content social media, dan kerjasama dengan komunitas. Otomatis bacaan saya sehari-hari juga portal, majalah, dan buku seputar pola hidup sehat.

Terus, tertarik aja? Action-nya apa?

Jawabannya: Hampir tidak ada :D. Ya, karena waktu itu belum ada pemicu yang benar-benar membuat saya melakukan aksi. Sebagai informasi, berat badan saya sejak remaja sampai dengan kuliah bisa dibilang sangat kurus. Semenjak bekerja, karena gizi tercukupi berat badan saya menjadi ideal (sesuai hitungan BMI calculator sih begitu). Saya jadi merasa aman-aman saja. Mau makan sembarangan, olahraga seadanya, begadang, oke-oke saja, toh kondisi badan juga selalu fit hampir gak pernah ada sakit yang berarti.

Ury kurus

Saya di tahun 2012, yang masih setengah jalan menuju ideal

Kemudian, apa yang membuat saya sadar?

Saat hamil, berat badan saya bertambah 16kg dan setelah melahirkan tertinggal 7kg yang membuat badan saya jadi tidak ideal lagi. Baju-baju saya jadi banyak yang sempit dan sebagian saya berikan ke saudara. Beberapa baju kesayangan sengaja tetap saya simpan untuk memotivasi agar tubuh bisa kembali ke berat semula.

Saya selepas melahirkan

Kenaikan berat badan membuat kepercayaan diri saya berkurang, saya juga merasa kurang fit dan mudah lelah. Ditambah lagi dengan stress yang saya alami pasca melahirkan, hingga membuat ASI saya tidak maksimal saat itu.

Selepas menjadi busui, beberapa upaya saya lakukan seperti mendaftar ke pusat kebugaran, tidak makan malam, dan tidak makan makanan manis serta gorengan. Hasilnya? Nihil.

Setelah saya pikir-pikir lagi, usaha saya sia-sia karena saya terlalu memaksakan diri. Saya terlalu fokus pada menurunkan berat badan secepat mungkin, padahal yang penting bukan cuma berat badan turun tapi menikmati pola hidup sehat itu sendiri. Syukurlah, saya tidak sampai tergoda membeli obat diet super mahal. Jadi, kita harus mulai dari mana?

1. Cintai diri sendiri

Saya tanamkan dalam diri bahwa saya ingin menjalankan pola hidup sehat karena saya mencintai diri saya sendiri, bukan karena pasangan, bukan karena pendapat orang lain. Memang benar kita harus menilai seseorang dari inner beauty, bukan bentuk tubuh, tapi saya tidak menutup mata bahwa tubuh ideal adalah salah satu tiket untuk terhindar dari berbagai macam penyakit. Cintailah diri kita sendiri dengan cara memperlakukan tubuh dengan baik, makan sehat, istirahat cukup.

2. Berpikir Positif

Stress bisa menurunkan motivasi dan daya tahan tubuh, bahkan menurut sebuah artikel di Dokter Sehat, stress bisa membuat kita jatuh sakit. Fokuslah pada hal-hal positif yang ada pada diri dan sekitar kita, jangan lupa selalu bersyukur.

3. Hargai setiap proses dan progres

Ibarat kita sedang dalam perjalanan ke pantai, nikmatilah pemandangan di sepanjang jalan sehingga tanpa terasa kita sudah sampai di tempat tujuan. Jadikan kegiatan olahraga dan makan sehat sebagai hal yang menyenangkan, bukan siksaan demi tubuh ideal.

Lalu, #AksiSehatCeria apa yang saya lakukan?

1. Mindful Eating

Beruntung, saya pernah berkenalan dengan seorang pakar Mindful Eating saat kerja di Jakarta dulu. Sejak mengenal Mindful Eating, saya mencoba menikmati setiap gigitan makanan dan fokus terhadap kegiatan makan tersebut. Sadari seperti apa makanan  yang kita makan dan kapan kita harus makan, sehingga kita terhidar dari emotional eating. Saya tanamkan dalam diri bahwa air putih dan teh tawar itu lebih nikmat dari minuman manis, alhasil dua minuman itu yang jadi favorit saya saat ini. Minuman manis dengan Whipped Cream? Gak deh, giung.

2. Fokus bukan hanya apa, tapi berapa banyak yang kita makan

Dulu, saya pernah beli semacam susu diet pengganti makan malam, tapi karena rasanya enak saya bukannya jadikan pengganti makan malah jadikan cemilan, alhasil asupannya jadi dobel deh. Saya coba tidak makan malam, atau tidak sarapan, yang ada saya jadi kalap di jadwal makan selanjutnya. Saya coba menghindari makanan favorit seperti sate kambing, duuh malah tersiksa. Akhirnya saya sadar, gapapa kok kita makan makanan favorit yang penting porsinya tidak berlebihan. Kalau dulu sekali makan sate 10 tusuk, sekarang 3 tusuk sudah cukup.

3. Jadikan olahraga sebagai hiburan, bukan beban

Beberapa bulan lalu saya daftar pusat kebugaran, tapi karena setiap mau berangkat fitnes kok berapa malah jadi beban akhirnya saya berhenti. Belakangan saya rajin beli alat olahraga dan melakukan olahraga sendiri di rumah, cukup 30 menit olahraga ringan sendiri di rumah, asalkan dijalankan dengan happy hasilnya akan lebih maksimal. Saya mengunduh beberapa aplikasi tutorial di ponsel dan follow serta subscribe channel para fitness blogger. Hasilnya, selain sebagai tutorial juga bisa memotivasi untuk terus rajin latihan.

4. Cari partner dan gabung di komunitas

Awalnya, saya ingin menjadikan suami sebagai partner untuk hidup sehat, tapi hingga saat ini saya masih berusaha keras untuk mengajaknya rajin berolahraga. Beberapa usaha sudah saya lakukan seperti mendaftarkan ke pusat kebugaran, membelikan sepeda, tetapi mungkin karena belum ada kesadaran dari diri sendiri jadi hasilnya belum maksimal. Akhirnya saya menemukan partner di kantor. Saya bersama teman-teman mengundang seorang Zin untuk menjadi instruktur setiap jum’at selepas jam kantor. Beberapa dari kami juga rutin berenang bersama dan bergabung di komunitas olahraga. Dengan bergabung di komunitas, semangat untuk berolahraga meningkat karena teman-teman di komunitas dapat menjadi motivasi dan inspirasi.

Renang yang lebih banyak ketawanya, tapi ketawa juga kan sehat 😃

Selepas latihan bareng komunitas Freeletic Bandung di Gor Saparua

5. Rajin Donor Darah

Saat kuliah dulu, beberapa kali saya mencoba untuk ikut donor darah tetapi tidak memenuhi syarat minimal berat badan. Begitu saya bekerja di Jakarta dan berat badan sudah cukup saya coba ikut donor darah yang rutin diadakan oleh kantor, alhasil jadi ketagitan deh. Manfaat donor darah banyak banget, cek lengkapnya di sini.

Gak sulit kaan #AksiSehatCeria ala saya, yang penting “Enjoy The Journey, Result is a Bonus”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s