Pengalaman Traumatis Test TPA OTO Bappenas di ITB

Lebay amat ya judulnyaaa… Tapi bener loh efek samping TPA ini sampe bikin migrain berhari-hari. Gini ceritanya *maaf panjang*…

Apa itu TPA?

Tes Potensi Akademik adalah tes yang dilakukan untuk mengukur potensi intelektual seseorang misal untuk menduduki jabatan tertentu atau menyelesaikan Pendidikan. Saya ikut test ini karena pengen melanjutkan pendidikan S2.

Penyelenggara resmi TPA di Indonesia adalah koperasi pegawai Bappenas (Badan Kepegawaian Nasional). Ada kampus yang menyelenggarakan sendiri tapi hasil tesnya cuma bisa digunakan di lingkungan kampus tersebut sedangkan hasil TPA Bappenas berlaku secara nasional.  Bappnesas secara regular menyelenggakan test di Gedung Bappenas Pusat, kampus, dll yang jadwalnya bisa dicek di sini 

Seperti apa soal TPA?

Test TPA terdiri dari 250 soal dengan pembagian sbb:

  1. Test verbal berjumlah 90 soal, berisi soal logika bahasa seperti sinonim, akronim, pengelompokkan kata
  2. Tes Numerik berjumlah 90 soal, berisi soal hitungan, deret bilangan, aljabar, & soal cerita matematika
  3. Tes Penalaran berjumlah 70 soal. berisi logika cerita dan diagram bangun

Kita diberi waktu masing-masing 1 jam untuk setiap sub tes. Peserta diharuskan mengerjakan sub tes yang sedang berlangsung, tidak diperbolehkan kembali ke sub tes sebelumnya atau lompat ke sub tes selanjutnya. Jangan harap bisa curang karena warna kertas di buku soal dibedakan untuk setiap subtes jadi pasti ketahuan 😀

Saya vs TPA

Orang lain biasanya daftar kampus dulu baru ikutan test, tapi saya pake cara lain test dulu aja baru cari kampus karena seperti halnya test Toefl & IELTS, Nilai TPA juga berlaku 2 tahun. Jadi daripada saya udah bayar biaya pendaftaran tapi ga lulus mending kumpulin nilai TPA & Toefl dulu baru daftar ke kampus.

Kampus incaran saya ITB, jadi saya cari info test TPA di ITB dan dapat infonya di sini  . Link untuk mendaftar, daftar peserta, & nilai semua ditampilkan di halaman tersebut tapi khusus link pendaftaran akan tersedia jika pendaftaran sedang dibuka. Setelah mengisi data saya mendapat virtual account untuk pembayaran test senilai Rp 325.000. Padahal untuk mahasiswa atau calon mahasiswa yang udah daftar ada harga diskon, tapi dasar saya saking kurang pede & gak mau kehilangan Rp 750.000 jadi tetep mau test duluan.

Saya punya waktu 1 bulan sejak hari pendaftaran sampai tanggal test untuk mempersiapkan diri, caranya dengan latihan soal di buku test TPA yang saya beli di Togamas. Gak lupa saya siapkan barang-barang yang diperlukan untuk test diantaranya pront out kartu peserta, pensil 2B untuk mengisi LJK, penghapus, pensil, & rautan.

Di buku ini terdapat penjelasan apa itu TPA, latihan soal, dan perhitungan nilainya, juga tips strategi mengerjakan soal. Saya coba kerjakan soal pakai timer supaya bisa memprediksi kemampuan sekaligus kecepatan. Dalam sebulan belum 50% jumlah latihan soal saya selesaikan, tapi berdasarkan perhitungan nilai saya selalu berkisar di atas 575 sd 600an, jadi pede dong ternyata test TPA ga susah-susah amat toh target untuk program S2 incaran saya di ITB cuma minimal 475 *mulai sombong.

Keren banget kaan judulnya

Tibalah hari test, 23 Maret 2019 jam 7:30 pagi. Saya berangkat naik ojol dan sampai di gedung labtek 2 ITB 30 menit sebelum test dimulai, dan ternyata hampir semua peserta sudah sampai di lokasi. 460 peserta test hari itu dibagi ke beberapa ruangan dengan kapasitas perruangan sekira 40 orang dan tempat duduk sudah ditentukan sesuai nomor peserta. Saya dapat kursi kedua dari jendela kaca bening & lebar dengan kondisi matahari pas banget kena muka, belum apa-apa keringat udah mengucur.

Meski diadakan di ITB, soal dan pengawas semua langsung dari Bappenas Pusat. Soalnya juga masih tersegel di dalam koper, bahkan kunci kopernya tersegel juga dalam map. Menjelang test dimulai, petugas meminta perwakilan peserta ke depan untuk jadi saksi pembukaan koper. Isi koper adalah lembar soal, lembar isian jawaban, berita acara, & jam dinding. Kok ada jam segala? Yup, jam itu dipakai untuk perhitungan waktu jadi semua seragam pakai waktu di jam tersebut yang dipajang di bagian depan ruangan.

Selain petugas tadi, ada 2 orang pengawas lain dari Bappenas & 2 lagi dari ITB. Jadi total yang mengawasi kita ada 5 orang. Sebelum mulai peserta dipersilahkan ke toilet dulu karena selama test tidak diperbolehkan kelaur ruangan. Ya rugi juga sih kalau keluar ruangan sedangkan waktu untuk mengerjakan soal mepet banget.

Dengan tingkat  pede yang lumayan tinggi, saya mulai membaca soal satu persatu.. dan ternyataa…. kumendadak gemetar karena soalnya jauuuh lebih susah dari latihan di buku soal. Soal-soal kemampuan verbal sebagian besar kata-katanya bener-bener asing gak pernah dengar atau baca sama sekali, Soal deretan bilangan yang jadi harapan juga, di buku soal diminta cari bilangan ke 5, eh di soal beneran bilangan ke 500, 1000. Lebih parah lagi soal logika wacana di buku contoh 5 paragraf, di soal beneran sampe 24 paragraf 😭😭

Contoh soal di buku, aslinya 3x lebih susah 🤦🏻‍♀️

Di subtes pertama saya cuma berhasil jawab kira-kira 60%, sisanya cap cip cup, subtes kedua paling parah cuma setengahnya. Karena gak ada sistem minus untuk jawaban salah jadi saya jawab aja abcde,abcde, dst.

3 Jam berlalu dengan cepat sekaligus menyakitkan. Di sinilan mungkin pertama kali saya merasa pusing nyut2an, bahkan lebih-lebh dari UAN & SPMB atau sidang skripsi. Usai test kita dikasi amplop untuk diisi alamat pengiriman hasil test nanti & selembar kertas untuk penilaian kita terhadap test yang sudah berjalan. Di situ ada pilihan apakah kita bersedia merekomendasikan TPA Bappenas ke instansi kita, dengan emosi saya jawab tidak hahahaha.

Kelana, Yayah, & Nenek sudah nunggu di Warung Pasta sebelah ITB karena saya sayah info bilangnya beres jam 10 padahal 11. Keluar ruangan jalan kaki menuju Warung Pasta badan terasa limbung, mikir nanti gimana kalau ga lulus, harus test ulang pusing lagi bayar lagi. Pesan makanan juga sambil mengawang-awang, kepala masih nyut-nyutan. Kirain sudah makan sembuh, ternyata nyut-nyutan bertahan sampe dengan 5 hari saudara-sadudaraa!!

Sembuhnya gimana? setelah tau hasil testnya.. 5 hari setelah test hasilnya diumumkan di web usm itb yang saya share tadi. Bener-bener deg-degan waktu cari nama saya di bagian bawah karena disusun alfabet, & Alhamdulillah lega banget setelah lihat nilainya mencukupi. 546,20, sangat cukup untuk program yang sama mau di magister ITB, tapi untuk program doktoral masih kurang 3,28 poin lagi.

5 hari kemudian, tepat 10 hari setelah test datang kiriman ke rumah berupa amplop yang sudah saya isi alamat sesusai test. isinya selembar sertifikat seperti ini:

 

IMG_9804

Oiya, iseng saya bandingin nilai sama peserta lain lumayan lah saya rangking 70an dari 460 peserta. Amaze banget lho ada yang nilainya di atas 600. Saking penasarannya orang macam apa yang nilainya bisa 600an, saya sampe kepoin searching namanya di google, ternyata rata2 baru-baru lulus S1 dari ITB. Duuh sebagai emak-emak udah jauh laah kemampuan otak saya inii :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s