Ibu yang Baik Itu yang Seperti Apa?

Tuhan sangat sayang sama saya. Saya berharap bisa langsung hamil setelah menikah karena usia sudah hampir menginjak kepala 3, dan saya mendapat 2 garis merah di testpack saat masih dalam euforia bulan madu, hanya 1 bulan setelah pernikahan. Saat itu saya baru pindah ke Bandung, meninggalkan pekerjaan di Jakarta & alih profesi jadi ibu rumah tangga.

Kehamilan saya berjalan sangat menyenangkan. Gak ada mual, gak ada muntah, dan dokter selalu mengatakan kondisi janin sehat & normal. Saya makin bahagia setelah hasil USG menunjukkan anak saya laki-laki, seperti harapan saya sejak dulu yang gak punya saudara laki-laki. Meski tidak sibuk bekerja tapi saya tetap aktif jalan-jalan. Saya & suami sempat liburan ke pantai Batu Karas di usia kehamilan 4 bulan & ke Bali di usia kehamilan 6 bulan.

Foto beberapa hari sebelum melahirkan

Semua berjalan sangat baik sampai tiba waktunya melahirkan. Karena HPL menjelang Idul Fitri, saya dan suami memutuskan untuk melahirkan di bidan dekat rumah orangtua suami. Kami kemudian memilih klinik Bidan Pudji, bidan yang membantu kelahiran 5 anak ibu mertua termasuk suami saya. Hanya 2x periksa sebelum melahirkan, saya melahirkan secara normal dibantu oleh Bu Bidan & satu asistennya. Kelana lahir dalam kondisi sehat, berat badan 3,6kg & panjang 50cm. Ia  menjadi hadiah Lebaran yang paling indah. Seluruh keluarga saya berkumpul di Bandung. Semua bahagia menyambut anggota keluarga baru.

Kelana berusia 3 hari

Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Begitu Kelana lahir, Bidan langsung membimbing untuk IMD. Masalahnya saya memiliki flat nipple dan selama hamil saya gak notice. Flat nipple membuat bayi kesulitan meletakkan mulutnya & menghisap ASI. Asisten Bidan membantu membuatkan alat penghisap seperti mainan suntikan.

Selang 1 malam kami pulang dari klinik. Untuk sementara kami tinggal di rumah orangtua suami supaya banyak yang membantu mengurus Kelana & juga sekalian merayakan Idul Fitri bareng. Selama 1 mingu pertama Ibu saya masih stay di Bandung menemani saya.

Cerita begadang di minggu-minggu pertama menjadi orangtua baru sudah biasa saya dengar, tapi perjuangan memberi ASI benar-benar belum saya siapkan sebelumnya. Menghadapi bayi yang sedikit-sedikit bangun minta nyusu, baru ditaro di kasur & ibunya tarik selimut eh bangun lagi sudah cukup melelahkan, tapi ini ditambah rasa sakit luar biasa karena nipple yang luka sampai becucuran darah saat bayi menyusu. Saya sampe migrain karena nahan teriak tiap menyusui, tapi saya ga menyerah demi cita-cita punya bayi lulus S3 ASI.

Sampe tidur dengan posisi duduk karena bayi ga mau lepas

Saya coba pakai nipple cream untuk mengobati lecet, tapi tiap lukanya sedikit mengering disusuin lagi jadi lecet lagi (Belakangan saya tahu dari dokter kalau obat terbaik mengolesinya dengan ASI, bukan dengan nipple cream atau semacamnya). Dicoba untuk gak disusuin dulu sebelah sampai lukanya sembuh, tapi saya malah mastitis alias radang. Rasanya luar biasa, panas dingin campur nyeri.

Saya makin down saat Kelana dibawa kontrol ke Bidan seminggu kemudian dan ternyata berat badannya gak naik, malah turun 2 ons. Penjelasan dari dokter dan bidan,  bayi baru lahir memang cenderung banyak kandungan airnya, jadi normal kalau di mingggu awal beratnya turun. Ok, saya merasa optimis kembali.

Minggu kedua kondisi ga semakin membaik. Luka nipple makin parah, bahkan kliatan terpotong sampe saya sebut mulut Pacman yang menganga (maaf kalau geleuh, tapi kenyataannya memang begitu :(). Kelana kelihatan makin kurus, padahal terus terusan menyusu. Dokter menyarankan untuk memerah & memberi ASI dengan pipet dengan jumlah & jadwal teratur. Di sinilah saya sadar kalau ternyata ASI saya sangat sedikit. Semenjak  mastitis berlanjut dengan diare, jumlah ASI saya berkurang drastis.

Saya makin khawatir karena Kelana gak p**p selama seminggu. Dia bisa p**p setelah dibawa ke dokter & dipancing dengan cairan yang disuntikan lewat anus. Dokter bilang kadang ada kondisi bayi gak poop sampai 2 minggu karena nutrisi ASI diserap sepenuhnya, yang penting tetap pipis teratur.

Segala usaha saya coba mulai pijat paraji, konsultasi ke beberapa dokter & konsultan laktasi, minum suplemen & booster,  gak berhenti makan sampe kembung. Makanan yang awalnya saya ga doyan pun saya makan, daun katuk rebus sampe saya gadoin. Saya tetap pegang cita-cita awal: Kelana lulus sarjana S3 ASI, no sufor. Karena takut bayi kuning saya sampe minta donor beberapa botol ASIP ke teman, dengan harapan cukup donor sekali sampai ASI saya banyak.

Hasil diagnosa dokter katanya saya strees. Saya gak memungkiri stress sudah saya rasakan semenjak hamil, karena perbedaan kondisi dari perempuan single pekerja di Jakarta jadi Ibu rumah tangga di kota lain. Saya merasa kehilangan rutinitas yang menyenangkan, ga punya teman, gak punya penghasilan. Saya gak bisa menerima kenyataan, termasuk kenyataan bahwa ASI saya ga mencukupi kebutuhan nutrisi Kelana.

Tinggal di rumah mertua yang saya belum terlalu dekat juga menjadi tekanan tersendiri. Saya jadi sensi, niat baik aja bisa bikin saya berfikiran negatif. Segala macam alasan muncul untuk ninggalin rumah sampe suara berisik kendaraan & tukang tahu bulat aja bikin saya pengen kabur rasanya.

Keluarga sudah menyarankan pemberian sufor untuk Kelana, tapi saya tetap menolak sampe berat Kelana benar-benar turun drastis di minggu ke4, sampai 3,1 kg.  Saya makin tertekan saat ada komentar “kok beda, di foto pas baru lahir keliatan chubby”, bingung kalau mama minta dikirimin foto takut keliatan Kelana kurus. Tiap liat wajahnya yang tirus rasanya  mau nangis sekencang-kencangnya.

Setelah itu saya berfikir kok saya egois banget ya, pengen jadi ibu yang baik tapi malah nyiksa anak. Saya mulai berdamai dengan keadaan & memutuskan  memberi Kelana sufor untuk menambah nutrisi. Saya lupakan semua jargon-jargon anti sufor, saya lupakan kekhawatiran pandangan teman-teman yang pro ASI kepada saya nanti. Alhamdulillah berat badan Kelana perlahan mulai naik. Pokoknya saya tanamkan di pikiran analoginya kalau sayuran & buah sedang langka ya ga ada salahnya deh makan junk food daripada kelaparan.

Saya jadi Ibu pro sufor? engga kok. Saya masih setuju bahwa ASI adalah nutrisi terbaik untuk bayi. 2 tahun saya pernah jadi freelancer memegang brand susu bayi & anak, yang juga memproduksi sufor yang dikonsumsi Kelana saat ini, saya paham betul bahwa WHO bahkan sudah mengeluarkan WHO Code yang melarang segala bentuk promosi susu formula untuk anak di bawah 1 tahun. Hanya dokter yang boleh menyarankan pemberian sufor, itu pun harus memiliki alasan kuat seperti kondisi ASI ibu yang kurang.

Pun saya masih berusaha menyusui semaksimal mungkin sampai sekarang, tapi kejadian-demi kejadian tersebut membuat saya lebih toleran dan tenggang rasa dengan diri saya sendiri dan sesama Ibu lainnya. Saya yakin semua Ibu ingin memberi yang terbaik untuk anaknya. Tapi ukuran Ibu yang baik itu seperti apa sih?

Cerita perdebatan Ibu bekerja VS Ibu Rumah Tangga, ASI Eksklusif VS Sufor, lahiran normal VS Cesar masih belum basi sampai saat ini. Semua kembali ke pilihan masing-masing, tergantung kemampuan & kapasitas diri. Yang saya sayangkan, pilihan tersebut kemudian membuat seseorang jadi merasa lebih dari orang lain yang berbeda darinya.

Masih segar di ingatan saya saat 4 tahun lalu baru megang brand susu yang sebelumnya saya sebut. Saya sempat mempromosikan FB page produk susu yang saya maintain di group WA berisi teman-teman yang sebagian sudah menjadi Ibu. Jawaban yang saya dapat adalah “Lo gak salah Ry promoin *** di sini? Di sini kan isinya Pro ASI semua”. Kemudian saya jelaskan bahwa page yang saya pegang isinya bukan kampanye sufor dan brand sudah menjalankan WHO Code tentang larangan promosi Sufor.

Munculnya banyak komunitas dan group pro ASI sangat positif menurut saya, mereka bisa jadi wadah sharing, edukasi, & motivasi. Tapi lama kelamaan kok saya merasa banyak oknum yang jadi cenderung “Galak” dan menghakimi. Pernah saya lihat postingan teman laki-laki di facebook sedang memberi susu lewat dot ke bayinya, postingannya langsung banjir komen memojokkan “Gak dikasi ASI?” “Kok bayinya dikasih dot?”

Saling nyinyir antara Working mom & Stay at home mom juga ga ada habisnya. Saya sekarang kembali kerja ya karena butuh, butuh aktualiasasi diri di luar rumah & butuh income juga. Saya gak bisa menjanjikan kalau diam di rumah saya bisa jadi Ibu lebih baik dari saat ini, bisa jadi saya makin stress & sensi dan berakibat buruknya terhadap sikap saya kepada anak. Ini untuk saya pribadi lho ya, bagi Ibu lain yang merasa suami sudah cukup menafkahi keluarga & lebih merasa happy di rumah ya monggo, silahkan.

Dulu saya amaze dengan Ibu-ibu yang memamerkan stock ASIP yang penuh satu freezer, saya sering tanya ke teman yang mau atau baru lahiran “Normal atau Cesar?”, saya sangat terpengaruh dengan content per-Ibu-an di social media. Sekarang saya merasa semua ga terlalu penting. Mau ada yang pamer ASI satu container ya silakan, itu rejeki mereka. Saya ga perlu sedih karena meski ASI sedikit saya masih bisa memberi kasih sayang dalam bentuk lain. Mau lahiran normal atau cesar, Ibu tetaplah Ibu. Saya ga habis pikir ada orang yang bilang “Untuk jadi Ibu seutuhnya harus lahiran normal”, sembarangan wong saya dengar cerita teman-teman yang cesar sama juga kok merasa sakit, lagian kalau kondisi medis gak memungkinkan untuk lahir normal kita bisa apa?

Bahkan timeline IG Mbak penyanyi inisial A yang bikin heboh karena dianggap lebay & unrealistic juga cukup saya tanggapi “Bodo amat ah, ga ngaruh sama hidup gw”. Yang positif bisa kita jadikan motivasi & inspirasi, kalau ada yang nyinyir anggap aja angin lalu. Misal working mom nyinyir sama Stay at home mom, anggap aja sirik karena waktunya sama anak ga sebanyak mereka, sebaliknya kalau stay at home mom nyinyir sama working mom, anggep aja sirik karena kurang aktualisasi diri di luar rumah jadi cari perhatian hehehee. Intinya mah yang nyinyir cuekin karena dipikirin juga ga ada bayarannya 😛

Jadi Ibu bukan ajang kompetisi, tapi sesuatu yang harus kita jalani dengan sepenuh hati. Saling memberi saran & motivasi sangat saya anjurkan, tapi kita harus sadar perjuangan & cobaan tiap Ibu berbeda-beda, kita ga perlu mengejar standar tertentu atau menghakimi Ibu lain yang mempunyai standar beda sama kita.

Jadi, Ibu yang baik itu yang seperti apa? Menurut saya, Ibu yang baik adalah Ibu yang bahagia, yang bisa membahagiakan keluarga dan membesarkan anak jadi pribadi yang bisa membahagiakan orang lain.

Trekking Trip Pertama Kelana

Dari jauh sebelum nikah udah cita-cita banget pengen bawa bocah hiking pake baby carrier Deuter Kid Comfort. Akhirnya kesampean juga beli di usia Kelana hampir 8 bulan. Nakbayik happy banget waktu nyoba pake gendongannya di rumah.

Tanpa nunggu lama-lama, langsung rencanain trip weekend itu juga. Kebetulan nakbayik udah bisa duduk sendiri, jadi udah memenuhi syarat untuk pake baby carriernya.

Pengennya sih langsung naik gunung beneran, tapi buat latihan kita coba trekking di track yang ga terlalu panjang & bukan alam liar banget supaya gampang antisipasi kalau bayi rewel atau ada kejadian ga diinginkan. Terpilihlah Taman Hutan Raya Djuanda untuk tujuan trekking pertama kita.

Malam minggu udah siapin barang-barang apa aja yang mau dibawa supaya bisa berangkat subuh karena jam3 sore si Yayah ada undangan acara di TSM. Diapers, tissue, baju ganti, susu, alat makan, & cemilan semua muat di bagian bawah baby carrier. Mainan & topi saya ikat pakai pita yang dikaitkan ke baby carrier & disimpan di kantong samping. Kok pake diikat segala? Supaya ga ilang karena nakbayik lagi hobi lempar-lempar barang 😁😁

Minggu pagi, boro-boro berangkat subuh, alarm kita cuekin semua. Mendekati jam6 Bubu baru bangun & memutuskan masakin sarapan & mandiin nakbayik dulu. Sambil ngantuk karena dibangunin paksa, nakbayik sarapan & mandi di kamar mandi darurat, bak cuci piring 😅😅


Jam 7 pagi kita siap berangkat. Alhamulillah lalu lintas bersahabat, sebelum jam 8 kita udah sampe di gerbang Tahura.


Petualangan dimulai. Target awal trekking sampai air terjun Maribaya, tapi karena ngejar waktu jam3 di TSM kita putuskan cukup sampai penangkaran rusa. Jarak dari pintu gerbang ke penangkaran rusa kira-kira 3km.

 

Nakbayik happy & ketawa-ketawa riang, apalagi kalau dibawa bercanda lari-lari kecil atau gerakan naik turun. Sampai depan goa Belanda kita istirahat sebentar sambil ngemil di warung. Nakbayik anteng lihat aksi kera makan jagung yang dilempar pengunjung.

Perjalanan dilanjut muter lewat bukit, kalau mau lewat goa bisa hemat waktu sih tapi karena udah diwanti-wanti si nenek jangan bawa bayi masuk goa jadi kita pilih muter aja.

 

Wefie, nakbayik ikutan sadar kamera :))

Jam 9:30 sudah sampai belokan penangkaran rusa, tapi nakbayik mulai ngantuk karena memang jamnya tidur. Untungnya gak rewel, cuma lebih anteng & tiba-tiba ketiduran.

 

 

Sampai di penangkaran pas jam makan rusa, jadi bisa lihat rusanya dari dekat deh. Kalau bukan jam makan rusa pengunjung bisa beli wortel untuk memancing rusa ke pinggir, harganya Rp 5,000 aja perplastik

 

 

Awalnya nakbayik kaget kebangun karena suara rusa. Sempet nangis beberapa detik tapi langsung ketawa lagi setelah diayun-ayun  ke atas (gampang banget dirayunya hehe). langsung excited liat rusanya dari deket.

 

Jam 10:30 kita siap-siap turun. Nakbayik masih ngantuk berat,  tidur sepanjang perjalanan. Awalnya sih mau lewat jalan muter lagi tapi karena agak gerimis kita lewat goa aja. Cuma 45 menit perjalanan tanpa berhenti kita sampai di pintu keluar.

 

Tidur pulas sepanjang perjalanan

Trek di Tahura sudah dilengkapi paving block (meski banyak yang rusak jadi becek juga), jalannya ga terlalu nanjak & ada warung di beberapa titik jadi cocok banget untuk family trip. Selain trekking, banyak juga yang memilih bersepeda. Warung-warung menyediakan minuman hangat, gorengan, jagung bakar, sampai colenak.

Bagi yang biasa naik gunung atau wisata alam ke luar negeri mungkin pemandangan di Tahura kelihatan biasa aja, tapi lumayan kok untuk olahraga dan mendekatkan anak-anak dengan alam. Kita bisa mengenalkan aneka jenis pohon, ada beberapa binatang seperti kera & rusa, juga melewati sungai dan air terjun (kalau sampai ke Maribaya). Dekat pintu masuk ada taman bermain di pinggir danau. Oh dan jangan lupa juga, Tahura juga bisa mengajarkan tentang sejarah karena ada Goa Jepang, Goa Belanda, & Museum Djuanda.

Dengan tiket Rp 10,000 perorang, worth it benget menurut saya 🙂

 

Hi, Aku Kembali

Akhirnyaa, setelah domain mati tapi ga keburu urus karena pas banget lahiran, tulisan selama setahun ilang semua karena ga bayar hosting, aku kembali dengan nama domain baru. Domain uryceriadotnet udah dipake sama tukang obat China T.T

Keliling Jepang dengan JR Pass

Salah satu daya tarik Jepang bagi saya adalah sarana transportasinya, terutama si kereta peluru super cepat Shinkansen. Sebagian besar jalur transportasi di Jepang dikelola perusahaan negara Japan Railway alias JR. Bukan cuma kereta lokal & kereta antar perfektur, mereka juga mengoperasikan bus & kapal feri.

Untuk memudahkan turis jalan-jalan di Jepang, JR menyediakan layanan Japan Railpass yang cuma bisa dibeli oleh orang asing dari luar Jepang. Nah kebetulan udah cita-cita pengen naik Shinkansen dan dihitung biaya transportasi jadi bisa dihemat, saya & suami memutuskan membeli JR Pass.

Dengan harga JPY 29.000 alias sekira Rp 3,2jt Perorang, kita bisa naik seluruh armada JR selama 7 hari kecuali Shin Mizuho & Shin Nozomi. Gak tau sih perbedaan kedua Shinkansen ini apa dibanding Shinkansen lain, tapi yang jelas kalau mau naik Shinkansen ini kita harus bayar paketan yang lebih mahal. Selain paket 7 hari, tersedia juga paket 10 hari & 30 hari.

JR Pass bisa dibeli di banyak travel agent di Indonesia. Karena mager, saya pesan online di salah satu website penjualan tiket kereta berbagai negara, bukti pembelian diantar ke kantor dengan sistem COD untuk dibawa & ditukar dengan Railpass setibanya di Jepang.

Pagi setelah menginap di Bandara Haneda, kami langsung menuju loket penukaran JR Pass di stasiun monorail untuk melanjutkan perjalanan ke pusat kota Tokyo 

image

Dengan JR Pass kita ga perlu beli tiket saat mau naik kereta, tinggal jalan lewat depan loket &

tunjukkan JR Pass kita ke petugas semacam customer service yang biasanya melayani penjualan kartu berlanggananan dll. JR Pass cuma bisa dicetak satu kali, jadi kalau ilang ya udah cuma bisa ikhlas

Suasana dalam kereta di malam Halloween, penuh anak muda berkostum jadi kita ikutan meski cuma pake topeng 100 Yen 😀

Ga perlu khawatir nyasar naik kereta di Jepang, karena stasiunnya canggih-canggih, dilengkapi LCD petunjuk yang jelas tentang info jadwal kereta & peron.  Tapi kita pernah salah kereta juga sih di Osaka karena gak tau ada kereta Rapid & lokal. karena tujuan kita cuma stasiun kecil, harusnya kita naik Osaka Loop Line local, eh malah naik rapid jadi kelewat. Pake Google Maps ngebantu banget buat cari jalur kereta (dibanding lieur liat peta cetak). 

Sebelah kiri itu logo perusahaan transportasinya, sebisa mungkin cari jalur yang logonya JR semua, biar bisa pake JR Pass

Untuk Shinkansen & kereta cepat Thunderbird, karena sistem duduknya dengan nomor, kita harus book tiket dulu di counter penjualan tiket Shinkansen. Tiket Shinkansen hanya bisa dipesan untuk perjalanan hari itu juga.

Kayaknya sih Orang Jepang punya kebiasaan silent di kereta Shinkansen, jadi saya juga ikutan bisik-bisik pas ngobrol supaya gak dicap turis gengges. kebiasaan lain adalah bawa bekal Bento. Di stasiun banyak toko yang menjual Bento yang bisa kita nikmati di kereta. 

Jarak Tokyo Osaka kira-kira 500KM (sama kaya ke Jakarta ke Jogja) dan bisa ditempuh 2,5 jam dengan Shinkansen. Harga tiket JPY 14.450 (sekira 1,5juta rupiah). Sempet kepikiran, kalau ada Shinkasen Jkt-Bandung saya bisa kerja di Jkt PP setiap hari, tapi kayanya gajinya ga cukup buat bayar kereta aja :))

JR Pass sangat disarankan buat traveler yang itinerarynya pindah kota, karena kita bisa naik Shinkansen sepuasnya. Buat yang cuma mau jalan-jalan di satu kota, kayaknya sih cukkup beli tiket eceran. Biaya sekali perjalanan kereta lokal sekira JPY 200-JPY 300.

Menginap di Bandara Haneda Tokyo

Supaya hemat waktu & biaya Hotel, saya selalu pesan penerbangan yang sampainya pagi & pulangnya malam. Tapi dasar low cot carrier, tiket promo pula, menjelang hari H fligh saya & suami dari KL ke Haneda digeser dari pukul 1 dinihari jadi pukul 14:30.

Hotel sudah dipesan dari tanggal 26 Oktober 2015 karena rencananya kami sampai Jepang 26 OKtober pagi. Karena sampainya jadi tengah maalam, dipikir-pikir kok sayang yah 10rb Yen cuma buat nginap sebentar, belum lagi mempertimbangkan biaya taxi yang gosip mahalnya udah bikin jiper duluan. Monorail & Kereta sebentar lagi tutup, JR Pass belum ditukar, ah ribet deh pokoknya kalau harus ke kota

AKhirnya kami (eh saya sendiri sih) membuat keputusan sepihak untuk nginep di Bandara  aja, hotel saya cancel H-seminggu. Toh teman-teman banyak kok yang pernah nginap juga di Haneda, dan baca-baca beberapa blog katanya Haneda nyaman buat nginep. Suami sih males-malesan & kekeuh mau cari Hotel lagi, tapi perempuan kan selalu benar :p

Sampai di Haneda pukul 22:30, langsung melewati lorong masuk ke terminal kedatangan. Hal pertama yang kita lakukan pastilah ke toilet. Terbuktikanlan cerita toilet Jepang yang canggih itu. Kalau toilet Indonesia cuma punya tombol flush, toilet Jepang ada tombol flush manual, flush otomatis, penghangat dudukan, shower depan & belakang, bahkan tombol sound effect gemericik air & tombol-tombol lainnya yang saya gak ngerti.

Beres urusan toilet kita langsung menuju bagian imigrasi, isi form kedatangan seperti biasa, kemudian antri. Petugas imigrasi Jepang ramah-ramah banget, senyumnya lebar-lebar meski udah tengah malam. Di counter saya cuma ditanya “Mau ke mana aja, sama siapa, suaminya yang mana?”

Setelah lewat pemeriksaan, sampailah kita di ruang tunggu kedatangan lantai 2F. Di sini ada money changer jadi kita tukar uang dulu. setelah itu bingung deh tempat yang buat tidur di mana yaaa? di lantai 1 ada kursi-kursi panjang sih tapi disekelilingnya tempat orang mondar-mandir & depannya ada lift jadi agak kurang nyaman.

Karena takut nyasar di Bandara segede gitu, saya browsing dulu di mana tempat yang nyaman buat tidur. beberapa blogger menyarankan di Lantai 4 dekat observatorium deck. Oke lah, kami langsung naik pakai eskalator. Area 3F adalah terminal keberangkatan & check in counter. di dekat tangga ada beberapa jajaran kursi panjang & tempat charger juga pC untuk browsing. Di sini juga kita bisa menemukan Airport Map berbentuk buku dengan info lengkap banget

Area 4F area restoran, desainnya dibuat seperti jalanan di kota. Karena sudah malam restonya udah pada tutup

Sampai di Area 5F, saya langsung ambil posisi di kursi bundar depan observation deck. di sini ada pintu menuju observation deck & kanan kirinya ada tempat yang dikasi nama “Cold Area” & “Hot Area” ga ngerti juga sih fungsinya apa hehee. si Hot Area lagi dalam proses renovasi & di depannya ada petugas yang berdiri mengawasi ke arah tempat duduk. Kebanyang berdiri begitu sepanjang malam, tapi nanamnya juga orang jepang penuh dedikasi. Tengah malam sampai subuh ga ada flight, jadi bandara sepi kecuali sama backsound eskalator mbak-mbak Jepang yang gengges banget diulang-ulang terus :))

Gak lama saya sudah mulai tertidur, sementara suami bolak-balik ke observatorium deck, cari jajan, cari colokan. Belum 2 jam tidur, tiba-tiba suara bor menggema dari proyek di Hot Area, saya langsung kebangun ga bisa tidur lagi. AKhiirnya kita beranjak untuk cari tempat lain. sudah nemu tempat pewe & sepi di pojokan 1F dekat jalur bus, tapi suami bawel banget pengen deket-deket tempat ngecharge aja. Jadinya kita balik lagi ke 3F. suami ambil posisi di kursi depan charger & ada satu kursi panjang berisi 1 tas punya orang, langsung saya ambil alih aja buat tidur selonjoran, mumpung orangnya lagi sibuk ngecharge hehe

Menjelang pukul 05:00 bandara mulai ramai dengan calon penumpang flight pagi. Suara derap kaki terburu-buru, roda koper, & speaker informasi jadi satu. saya langsung kebangun saking ramenya. keliahatan deh pemandangan orang Jepang yang setelannya keren-keren, bikin kita berdua keliatan turis gembel banget :p

Selelah muter ke 1F buat jajan di Lawson, kita kembali lagi ke 5F.Sempet liat-liat ke observation deck. di sini ada teropong juga yang bisa digunakan dengan tarif JPY 100. Ga lama di observation deck saya udah kedinginan kena udara pagi musim gugur yang suhunya di bawah 15 derajat celcius

Pemandangan dari Observation Deck

Sekarang giliran suami yang tidur sambil nunggu counter JR buka pukul 08:30. Gantian saya membersihkan diri di toilet & ngecharge hp + laptop sambil Wifi-an. Wifi di Haneda lumayan kenceng kok, cuma tinggal login lewat facebook. Oiya katanya sih ada kamar mandi umum buat mandi, tarifnya JPY 1000 untuk 30 meniit.Karena mahal & toh dingin juga, jadi saya ga nyari tuh emang ga niat mandi hehe

Dari Bandara kita langung menuju kota & gak langsung ke hotel, tapi jalan-jalan dulu sambil nunggu check in dengan tas besar & badan asem belum mandi. Harus diakui, nginap di bandara bikin kita agak meriang. meski udah biasa nginap di tenda, pernah juga di emperan toko waktu di Ijen, tetep aja udara alam masih lebih bersahabat dibanding udara dalam gedung megah sekalipun kalau tempat tidurnya gak proper

Cara Mengajukan Visa Jepang

Setiap traveling saya selalu berfikir “Pokoknya nanti mau nulis tentang perjalanan ini” tapi begitu pulang kelupaan & males deh hehe. Mumpung masih baru pulang & inget banyak detail saya mau nulis pengalaman traveling ke Jepang, tapi sebelumnya mau cerita dulu cara mengajukan Visa Jepang

Warga negara Indonesia sekarang bisa bebas Visa ke Jepang, tapi syaratnya harus punya e-passport & mendaftar Visa Waiver di Kedutaan Jepang sebelum berangkat. Saya sudah punya e-passport & suami belum, jadi kita apply visa dengan cara berbeda.

Karena suami (eh waktu apply sih masih calon :p) tinggalnya di Bandung, jadi saya juga yang urus Visa-nya di Jakarta. Sayangnya apply Visa ga bisa diwakilkan kalau bukan sama anggota keluarga  jadi saya pake jasa travel agent Dwidaya Tour di Grand Indonesia. Diitung-itung mending bayar ekstra Rp 100.000 daripada dia bolak balik Jkt-Bandung 2x, abis waktu & ongkos.

Berikut adalah perbedaan Visa Waiver & Visa reguler: 

Persyaratan dokumen: 

Visa waiver: Passport & formulir singkat. bisa di download di http://www.id.emb-japan.go.jp/visa_waiver_form.PDF

Visa reguler: 

1. passport

2. formulir lebih panjang panjang,  bisa didownload di http://www.id.emb-japan.go.jp/application2.pdf

3. pas foto backgroud putih ukuran 4,5cm x 4,5cm

image

4. rekomendasi perusahaan tempat bekerja (surat ditujukan pada japan embassy, ada keterangan kapan tanggal berangkat & pulang)

5. rekening koran 3 bulan terakhir

6. itinerary selama di Jepang, download template di http://www.id.emb-japan.go.jp/vish_itnr.doc

7. bukti pemesanan tiket & booking hotel 

Biaya: 

Visa waiver : gratis 

Visa reguler: Rp 320.000 

Lama proses pengajuan:

Visa Waiver: 2 hari kerja 

Visa Reguler: 4 hari kerja

Masa berlaku: Visa waiver: 15 hari kunjungan dengan expiry date 3 tahun sejak diterbitkan atau setelah passport habis (mana yang lebih dulu) 

Visa reguler: 15 hari kunjugan dengan expiry date 3 bulan sejak diterbitkan 

Untuk pengajuan Visa kita bisa datang ke kedutaan Jepang yang letaknya di jalan MH Thamrin, tepat sebelah Plaza Indonesia. Bagi yang bawa kendaraan pribadi bisa parkir di PI atau GI. 

Waktu pengajuan Visa adalah pukul 08:30 sd 12:00. Setelah menukar ID dengan visitor card, kita bisa masuk gedung & ambil nomor antrian. Saat mengantri ada bapak-bapak yang mengedarkan tanda terima berupa kertas kecil 2 rangkap. Sebaiknya saat dipanggil semua form sudah terisi lengkap & dokumen sudah tersusun. Setelah data diserahkan, kita bawa tanda terima untuk pengambilan. 

Pelayanan Visa di kantor kedutaan Jepang dibagi 2 sesi, 08:30 sd 12:00 untuk pendaftaran, 13:30 sd 15:00 untuk pengambilan. Jadi, untuk pengambilan Visa datanglah di tanggal yang ditentukan selepas jam makan siang. Prosesnya sama seperti pengajuan, ambil nomor antrian dan tunggu dipanggil. Karena saya apply Visa Waiver, begitu dipanggil saya langsung serahkan tanda terima & passport bersticker Visa langsung pindah ke tangan. Untuk Visa reguler, kalau sudah approve kita harus membayar biaya saat pengambilan. Kalau belum approve kita akan dikasi tau dokumen apa yang kurang & diminta apply ulang

Ini dia tampilan VIsa setelah jadi:

Visa Reguler:

image

VIsa Waiver:

image

My DIY Wedding

Yeaay, akhirnya setelah kerempongan persiapan yang makan waktu hampir setahun acara wedding saya dan pacar (eh sekarang udah jadi suami :p) beres juga. 

Sejak dulu saya dan suami pengen wedding yang simple tapi berkesan. Sempat mengkhayal pengen bikin private party di pantai atau di gunung, dengan tamu cuma 100 atau 200 orang. Ternyata wedding di Indonesia ga sesimple itu, karena banyak tradisi yang udah turun temurun yang gak bisa kita dobrak begitu aja seperti jumlah tamu. Selain itu, wedding yang sudah terlalu template bikin kita yang mau agak beda harus merogoh kocek lebih dalam untuk bayar WO. Setalah brainstorm, browsing, dan datang ke beberapa vendor akhirnya kami memutuskan menghadle wedding kami sendiri tanpa WO. Nah buat teman-teman yang pengen melakukan hal yang sama, pasti bisa kok. Berikut saya share tahap-tahap saya dan pasangan menyiapkan wedding kami: 

1. H-10 Bulan, cari venue

Meski tinggal di Bekasi, saya ga pernah kepikiran untuk nikah di Bekasi hehe. beberapa venue outdoor sempet jadi pilihan seperti Villa Amandaratu di Ujung Genteng, Restoran Segarra di Ancol, Bumi Sangkuriang, dll tapi kalo ga mentok di jarak ya di harga. Akhirnya diputuskan fokus cari venue di Bandung aja & kebetulan ada teman yang merekomendasikan Pine Forest Camp. Begitu survey saya langsung suka tapi pengurus sempet ragu ngebolehin untuk acara wedding. Sempet cari venue sejenis tapi ga dapet yang cocok. Berkat suami yang rajin merayu & merajuk akhirnya kita bisa deal & DP. 

Tips memilih venue: Perhatikan baik-baik aturan mainnya, kadang venue nawarin harga murah tapi waktunya dibatasin banget & banyak biaya tambahan terutama kalau kita bawa vendor yang bukan rekanan mereka. akibatnya biaya jadi bengkak. Surat kontrak juga harus jelas

2. H-10 Bulan, Cari WO 

Sambil cari venue kita juga cari WO. Keuntungan pake WO adalah kita tinggal minta ini itu ke satu orang, ga perlu repot langsung ke vendor. Kerugiannya kalau menurut saya pilihan konsepnya terbatas, harga bisa jadi lebih murah karena kita beli paketan tapi ya semua udah serba template kecuali kita mau bayar jauh lebih mahal. cuma sempet ke 1 WO saya udah ilfeel sama koleksi bajunya, makannya juga ga terlalu enak kalau kata mamah mertua. 

Tips memilih WO: Baca baik-baik paketan yang mereka tawarkan & penawaran harganya. meski pake WO kita juga harus tau detail tiap vendor misal rasa makanannya seperti apa, hasil make up-nya, hasil dokumentasinnya 

3. H-9 Bulan, Cari Catering

Gagal pake WO, kita memutuskan cari vendor sendiri. Vendor pertama adalah catering. Paling gampang sih kita datang ke wedding fair & cobain makanannya di sana, setelah itu kita short list untuk test food langsung ke real wedding yang mereka handle. Di sini saya baru tau ternyata kalau mau test food kita harus menyusup pura-pura jadi tamu hahaha. saya cuma sempet test food 2 kali, yang satunya salah gedung pula :p :p. dua-duanya ga terlalu cocok sampe pengurus Pine Forest ngasih rekomendasi Wins Catering yang udah biasa isi catering di Pine Forest. Karena saya gak sempat test food, pacar sama mamahnya yang mewakili. Menurut Ibu camer rasa & tampilan sudak OK, ya saya ikutan OK aja. 

Tips memilih catering: Bukan cuma rasa yang harus diperhatikan, tapi juga kerapihan dan kebersihan. Itulah pentingnya kita cek langsung ke real wedding, supaya tau cara kerja mereka menghandle flow menu & antrian, sampah, & piring kotor. Pastikan juga detail porsi menu terutama pembagian buffet & stall

4. H-8 Bulan, cari dekorasi

Sejak awal saya pengen dekorasi yang simple karena pengen nonjolin suasana hutan pinus. Setelah menghubungi beberapa vendor yang biasa menghandle outdoor wedding, tarifnya bikin syock semua. rata-rata di atas 20juta rupiah. Belum lagi kalau kita mau konsep baru yang mereka belum punya propertinya, biayanya bakal bengkak lagi. Denger angka 20juta, bokap langsung bilang “Kita buat sendiri aja, budget 20 juta sisa barangnya bisa kita pake nantinya” Ok deal, akhirnya budget kita alihkan untuk beli pemotong kayu, kayu bekas, kain, dan properti printilan lainnya. proses pembuatan dekor sekira 8 bulan, dikerjain satu persatu di waktu senggang. 

Tips memilih dekor: tentukan temanya mau apa, sesuaikan dengan tempat, dan sering sering cari di Pinterest. Beberapa hal yang saya kecolongan: banyak properti gak jadi terpasang atau rusak karena angin kencang di venue dan gak ada PIC yang jagain dari tangan iseng anak-anak kecil 

5. H- 5 Bulan, cari Wardrobe & vendor make up

Banyak sanggar pengantin yang menyediakan paketan make up + wardrobe, tapi karena saya pengen  punya baju pengantin sendiri jadi saya pake vendor terpisah. Urusan cari make up terbilang gampang, saya cuma browsing di internet, liat hasil make-upnya di IG, chat lewat LINE & langsung deal. Baju akad untuk pengantin & keluarga pria saya sewa di penyewaan baju adat. Bahan baju lain saya belanja kain di Pasar Mayestik. Hampir aja beli bahan kebaya akad jutaan, tapi karena warnanya ga cocok jadinya beli brokat 100ribuan aja & dijahitin nyokap. Baju keluarga besar juga saya beli bahannya di Mayestik, lebih dari 20 baju keluarga besar pihak cewe dijahit sendiri sama nyokap. sayangnya nyokap ragu buat jahitin gaun resepsi karena takut jelek, jadi saya jahit di penjahit dekat rumah pacar dan ternyata hasilnya ga memuaskan. H-1 bulan saya baru cari bahan lagi di Toko D Fashion Bandung & dijahitin sama nyokap juga akhirnya 

Tips memilih make up & wardrobe: Sesuaikan dengan venue dan konsep acara. Saya pengen banget pake paes jawa tapi pasti bakal ribet untuk garden party, jadi make up aes saya pake di akad aja & garden party pake gaya internasional. saat memilih vendor pastikan lihat detail hasil kerjanya dulu, saya kecolongan pilih penjahit yang ga punya dokumentasi hasil jahitannya. apalagi di era social media, bangak vendor yang memasang hasil karyanya di IG. kita juga bisa cari lewat wedding portal atau rekomendasi dari blog

6. H-4 bulan, cari souvenir
Souvenir ini bisa dibilang penting ga penting.Saya pernah berfikir, ini kok souvenir kawinan orang-orang numpuk di rumah, apa saya jadiin souvenir kawinan saya aja hehehe. Kebetulan ada teman yang punya brand merchandise, jadi kita pesan ke dia. Barangnya berupa bantal tidur, sesuai saya hobi saya & pasangan ngebolang. Nah di souvenir ini juga saya kecolongan, ternyata ukurannya kekecilan hahaha. 

Tips memilih souvenir: Kita memang bisa dapat berbagai jenis barang murah di Asemka atau Cibadak, tapi harus perhatikan baik-baik apakah barang itu bener-bener berguna. misal gunting kuku, ini kepake banget tapi kalau ga hati-hati pilih bahan ujung-ujungnya ga akan kepake. Souvenir gelas sih menurut saya yang agak berguna.Untuk souvenir yang customize seperti saya, jangan lupa cerewetin vendor untuk minta desain sampe mock up 

image: instagram.com/sazqueen

7. H-4 bulan, desain undangan
Desain undangan saya juga dibuatin sama teman. ALhamdulillah desainernya ga perlu banyak brief cuma kita kasi tau tone warna dan unsur pinus, langsung jadi deh desainnya. yang agak kecolongan di timeline percetakan. H-10 hari undangan cetak saya baru jadi, untungnya di era digital kita bisa memanfaatkan email & e-invitation. Ini e-invitation yang saya buat sendiri lewat portal gratisan http://harinyaurynobie.splashthat.com/

Tips desain undangan: Desain sekreatif mungkin, tapi cari bahan semurah mungkin. mau mahal toh bakal dibuang juga hehehe. Sediakan spare waktu cukup panjang untuk desain & minimal H-2 bulan sudah naik cetak. Cetak undangan seperlunya & untuk teman-teman bisa disebar lewat chat. Buat e-invitation disertai RSVP untuk perhitungan kasar tamu yang hadir 

8. H-3 bulan, Mengurus pendaftaran nikah
Sebenarnya ini yang paling penting dalam pernikahan hehe. Proses pengurusan surat di KUA sudah saya bahas di tulisan sebelah, silakan mampir http://uryceria.net/post/128220368811/mengurus-pendaftaran-nikah-di-kua

Tips mengurus pendaftaran nikah bisa dilakukan H-1 bulan, tapi kalau nikahnya di peak season seperti saya bisa diurus 3 bulan sebelumnya supaya dapat jam yang cocok dengan penghulu

9. H-2 bulan, Mencari pengisi acara
ALhamdulillah kita punya banyak teman berbakat yang mau membantu, jadi cari pengisi acara gak terlalu sulit. Saya mengajak 3 band untuk sumbang lagu & 2 orang MC. 

Tips memilih pengisi acara: cari band yang karakternya kita suka, tentukan lagu apa yang mau mereka bawakan, lagu mereka sendiri atau playlist dari kita. Playlist sebaiknya disetor jauh hari supaya kalau ada lagu yang belum pernah mereka mainkan, mereka punya waktu untuk latihan

10. H-2 bulan, cari bunga & pernik dekor lainnya
Karena saya dekor sendiri, bunga juga saya cari sendiri. Untungnya ada partner bride & groom to be Indy & Bagus yang mau nikah November ini jadi kita cari bunga bareng-bareng menyusuri Cihideung. Ujung-ujungnya sih dapet via online. Nah saya kan tadinya mau pake jeruk kumquat sebagai hiasan utama, saya cari jeruk yang sudah jadi ga nemu, akhirnya pesen ke petani di Lembang untuk merawat bibit sampai berbuah. eh gak taunya gagal total hahaha. Hiasan lain saya pake labu & potongan kayu, bunga utama mawar & anyelir. Saya pilih anyelir karena murah & bentuk serta warnanya cantik

Tips memilih vendor bunga: Sering-sering cari perbandingan harga, pesan langsung ke petani berupa bunga potong & rangkai sendiri. harga rangkaian di pasar bunga bisa puluhan kali lipat

11. H-1 bulan, Cari wedding cake

Lagi-lagi Alhamdulillah, saya punya kenalan cake baker. langsung chat & brief sedikit tentang konsep acara & kirim logo, wedding cake diantar & dirangkai di venue 2 jam sebelum resepsi

Tips memilih wedding cake: Gak ada tips khusus sih, cukup pastiin rasa cakenya enak & desain sesaui dengan konsep acara

12. H-1 Bulan, cari vendor Dokumentasi

Oke, ini sih beneran telat banget, tapi lagi-lagi Alhamdulillah ada temen yang bisa handle meski kudu repot juga sewa alat sendiri di Bandung *jangan dicontoh ya cara dadakan gini 😀

Tips memilih vendor dokumentasi: Paling penting lihat dulu hasil kerja mereka sebelumnya, buat perencanaan apa aja yang akan didokumentasikan dan juga storyline video. Kita juga harus tau berapa kru yang akan merekam, makin banyak Insya Allah hasil videonya makin bagus 

13. H-2 minggu, tentukan rundown & PIC

Meski namanya DIY, ga mungkin kita bisa handle sendiri saat hari H. KIta harus buat susunan kepanitiaan, misal PIC catering, PIC acara, PIC penghulu, dll

Tips memilih PIC: simple, sesuaikan aja sama kemampuan, misal tante yang agak bawel kita jadiin PIC catering, teman yang biasa jadi panitia kita jadiin PIC Acara

Tips DIY Wedding lainnya berdasarkan pengalaman saya & pasangan:

1. Meski DIY, perencanaan harus sematang mungkin. Saya membuat akun dropbox bareng pasangan yang isinya file excel perencanaan, timeline, rincian budget, dll juga file foto referensi, bukti pembayaran vendor, dsb

2. Pentingnya PIC & briefing sebelum acara. Saya merasa agak kecolongan di bagian ini, kalo bisa memutar waktu sih saya pengen ada PIC yang jagain dekorasi supaya ga rusak sama angin & anak-anak kecil, juga PIC untuk clear beberapa area foto supaya gak banyak photobomb 😀

3. Pake vendor temen sendiri ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya mereka bisa lebih total & harga bisa miring, kekurangannya karena teman kadang kita jadi kurang tegas saat ada yang kurang. Karena itu komunikasi harus lancar

4. Last but not least, sebaik dan serapi apapun kita melakukan persiapan, sh*t always happen. Ga perlu freak out kalau ada sesuatu yang gak sesuai rencana, misal seperti pesanan jeruk kumquat dan wedding gown saya yang gagal, souvenir yang kekecilan, dan pengisi acara yang telat sampe venue. Tetap berfiikir positif dan fokus, karena ini wedding party itu kita bisa berkumpul sama orang-orang tersayang