Perawatan Gigi menggunakan BPJS di RSKGM Riau, Bandung

Anak SD aja pasti tau, kalau kita dianjurkan periksa ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali. Tapi prakteknya, ada aja alasan skip ke dokter gigi. Sibuk lah, malas antri, harus bolak balik, biayanya mahal pula. Saya sendiri sejak pindah ke Bandung selama 2 tahun ga pernah ke dokter gigi. Ga kepikiran, karena baru punya anak kali ya jadi ga fokus (alesaaan).

Tiba-tibaa salah satu gigi geraham atas saya patah dan menyisakan lubang , tapi karena gak sakit juga butuh sebulan lebih buat tergerak periksa ke dokter. Awalnya mau pake asuransi kantor, tapi kok kecil banget plafond-nya. Daripada nombok, saya memutuskan pake BPJS aja, kan sudah bayar iuran tiap bulan jadi harus dimanfaatkan doong.

Sesuai prosedur, peserta BPJS harus ke faskes tingkat 1 dulu yaitu puskesmas. Sabtu pagi sepulang olahraga (jalan kaki santai 30 menit terus jajan sepiring) saya mampir ke Puskesmas Sekejati. Meskipun gak ada dokter gigi di puskesmas ini, saya tetap diperiksa sama dokter umum, tensi darah, dan ditanya keluhannya apa.

Dokter Puskesmas memberikan pilihan mau dirujuk ke RS mana. Saya langsung minta ke RSKGM Bandung di Jl Riau karena di RS Humana yang paling dekat rumah dokter giginya gak bisa kasi tindakan, cuma periksa dan kasi resep aja. Pernah bawa suami ke Humana utuk scaling sia-sia deh udah antri, dokternya malah menyarankan ke RSKGM Riau. Pilihan lainnya RS Al Islam yang gak saya pilih juga karena agak chaos.

Beres diperiksa dokter & surat pengantar sudah di tangan, saya langsung browsing untuk cek jam layanan dan lokasi tepatnya RSKGM Riau. Dapet info melalui website resmi http://rskgm.bandung.go.id/ RSKGM Riau buka antrian pendaftaran pukul 08:00 – 10:00 dan pelayanan sd pukul 14:00. Lirik jam masih jam 8:30. saya langsung cuss pulang, mandi, & pesan ojol menuju RSKGM.

Sebenernya saya belum tau tepatnya posisi RSKGM Riau di mana, ternyata di sebelah Secret Factory Outlet, sering lewatin tapi gak pernah ngeh. Sampai di RS jam 09:30 dan langsung ke tempat ambil antrian. TERNYATAA… nomor antrian sudah habis karena katanya banyak pasien antri dari jam 5 pagi. Jadi informasi buka antrian jam 8 sd 10:00 ga bisa jadi acuan yaa.

WhatsApp Image 2017-10-13 at 1.45.22 PM

Karena gak mau sia-sia keluar rumah, saya pesan ojol lagi ke RSGM Unpad, tempat langganan selama kuliah dulu. Setidaknya RSGM Unpad setahu saya tarifnya terjangkau meski gak pake asuransi. Saya pikir sekali datang bisa langsung ditambal, ternyata gak bisa karena lubangnya cukup besar. Dokter di RSGM cuma melakukan tindakan scaling & ngasi rujukan ke dokter specialist konservasi gigi. Katanya sih kemungkinan harus bolak balik sampai lebih dari 5x dan biayanya bisa lebih dari Rp 5juta. Untung bisa dicover sama BPJS.

Seminggu kemudian saya datang lagi ke RSKGM Riau pukul 6:30 dan dapat antrian no 20 untuk pasisen baru, no 35 untuk klinik Konservasi (Btw saya baru tau dokter gigi banyak specialisasinya juga, kirain cuma ortodhonti :D). Setiap pasien baru wajib isi form riwayat kesehatan, periksa tekanan darah & berat badan. Untuk pasien BPJS jangan lupa pilih jenis pasien BPJS di form. Setelah pendaftaran pasien baru selesai dan dapat kartu berobat, kita ke loket pendaftaran klinik. siapkan kartu berobat, foto copy surat pengantar dari puskesmas, copy KTP, & copy kartu BPJS. Kalau gak bawa copy bisa foto copy di counter dengan biaya Rp 1,000/lembar. Kemudian petugas akan memberi nomor antrian klinik yang baru (terus nomor yang awal buat apa ya??). saya dapat no 32 dan diminta ke lantai 3.

Setelah 30 menit menunggu (total 2,5 jam dari pagi) akhirnya nama saya dipanggil. dokter tiap klinik di RSKGM ada lebih dari 1 jadi ga lama banget sih antrinya kalau sudah dapat antrian klinik. Saya dapat dokter senior cewe yang galak-galak sunda gitu, beda banget sama dokter di RSGM Unpad yang bikin saya berasa jadi anak TK karena saking lemah lembutnya. Gak sampe 10 menit dibersihin dan dikasi obat perawatan selesai dan diminta datang seminggu kemudian. Cuma diminta ttd, ga perlu bayar atau ke loket lagi langsung boleh pulang.

WhatsApp Image 2017-10-13 at 1.45.21 PM

Suasana jam 10 pagi, sebelumnya penuh sampe banyak yang berdiri

Untuk kunjungan ke-2 dan seterusnya saya langsung ambil antrian pasien lama & antri daftar klinik di loket. Karena surat rujukan dari puskesmas expired, saya minta tanda tangan dokter di surat rujukan yang menerangkan saya masih menjalani perawatan. Alhamdulillah, semua perawatan selesai setelah kunjungan ke-5. Biaya yang dikeluarkan cuma Rp 2,000 untuk foto copy & bayar ojol aja.

Di kunjungan ke-4 saya sempat ajak suami scaling. Kata dokter saya, scaling gak ditanggung BPJS dan kayaknya sih suami bakal milih bayar dibanding antri buat rujukan di puskesmas. Liat2 web BPJS ternyata scaling ditanggung juga kok. Berikut pelayanan kesehatan gigi yang ditanggung BPJS:

a. Administrasi pelayanan terdiri atas biaya pendaftaran pasien dan biaya administrasi lain yang terjadi selama proses perawatan atau pelayanan kesehatan pasien;

b. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis;

c. Premedikasi;

d. Kegawatdaruratan oro-dental;

e. Pencabutan gigi sulung (topikal, infiltrasi) ;

f. Pencabutan gigi permanen tanpa penyulit;

g. Obat pasca ekstraksi;

h. Tumpatan komposit/GIC; dan

i. Skeling gigi

 

Intinya berobat pake BPJS gampang, asal sabar dan telaten ikutin prosedur 🙂

 

Trip Pantai Pertama Kelana

Ini trip udah lama sih, tapi pengen cerita aja mungkin karena lagi kangen pantai 😁

Kelana pertama kali mantai di usia 2,5 bulan, gara-gara Bubunya rungsing pengen mantai mulu. Awalnya mikir sih aman gak ya, ribet gak ya bawa bayi ke pantai tapi kemudian yaudahlah anggap aja dia kaya warga-warga pulau seribu atau Pangandaran yang dari brojol udah kena angin pantai atau anggap kita warga perantauan yang mau mudik ke kampung deket pantai hehe

Seminggu sebelum berangkat, terjadi pergolakan batin (tsaelah) tentang pantai mana yang dituju. Saya sih sukanya pantai yang di pulau kecil kaya Pulau Seribu gitu, tapi belum berani nyebrang bawa bayi. Ke Batu Karas, bosen. Lagi pula pantai selatan menurut saya gak Ok, chaos & pasirnya hitam kecuali Ujung Genteng tapi kan Ujung Genteng jauh banget lewat jalan hutan.

Dari hasil browsing saya tertarik sama Villa Karang Aji di Sukabumi yang bentuknya unik. Posisinya di tebing gitu sih jadi pantainya jauh di bawah, tapi konsepnya terbuka & viewnya bagus. Udah tanya sana sini, bingung lagi, labil lagi, eh dapet pencerahan dari temen kuliah suami di Pasca ISBI yang orang Pelabuhan Ratu. Dia ngajak ke sana aja karena dia punya banyak stock sea food dan bisa ngasih kita pasokan gratis selama di sana (ga mikir panjang, kalo gratis langsung ok :p)

Pagi-pagi berangkat bareng Si Yayah, Om Angkuy, Ateu Nindy yang waktu itu baru hamil dede Binar, & Mamang Medi. Belum pada mandi, jadi Kelana diseka di dalam mobil pas sampe Sukabumi sementara yang lain ngebakso

IMG_9076

Sampe ke Pelabuhan Ratu, lanjut terus ke Cisolok cari penginapan yang sebelumnya udah kita browsing, namanya Ocean Queen Resort. Sampai sana ternyataaa…. Ocean Queen letaknya pas banget di bawah Karang Aji. Jadi karang Aji kalau dari jalan nanjak, Ocean Queen belok ke jalan turun ke pantai.

Ocean Queen Resort punya banyak jenis bungalow mulai dari 1 kamar sampai 4 kamar, lengkap sama dapur, ruang tamu, & teras di setiap unit, restoran, & kolam renang. Kita pilih yang 3 kamar tapi cuma bayar harga 2 kamar (Mang Med tidur di sofa :D). Lokasinya pas di bibir pantai & punya private beach meskipun ombaknya agak besar jadi kita ga dibolehin berenang di pantai, kalau celup2 sedikit boleh lah

IMG_9235

Kelana pertama kena air pantai & pasir. Awalnya kaget, lama-lama happy

Untuk menghemat budget, makanan kita masak sendiri, bahannya belanja di pasar dekat penginapan. Pas tiba waktunya makan malam, pasokan Sea Food dataaang, langsung BBQ party pake pembakaran yang tersedia di depan bungalow

IMG_9274

Dikirim Lobster juga, yeaay

 

IMG_9144.JPG

Hasil masakan para suami

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan & selama 3 hari 2 malam di Cottage sampe perjalanan pulang Kelana ga rewel, cuma nangis wajar sebentar aja kalau poop atau ngantuk. Supaya ga masuk angin di pinggir pantai kita pasang tenda

IMG_9218

Seneng main dalam tenda di pinggir pantai

IMG_9279

makan gantian, renang juga gantian

Intinya traveling bawa bayi gak ribet kok, malah makin seru. Cuma risikonya sih bawaan jadi super banyak, penuh sama perlengkapan tempur bayik

 

Ibu yang Baik Itu yang Seperti Apa?

Tuhan sangat sayang sama saya. Saya berharap bisa langsung hamil setelah menikah karena usia sudah hampir menginjak kepala 3, dan saya mendapat 2 garis merah di testpack saat masih dalam euforia bulan madu, hanya 1 bulan setelah pernikahan. Saat itu saya baru pindah ke Bandung, meninggalkan pekerjaan di Jakarta & alih profesi jadi ibu rumah tangga.

Kehamilan saya berjalan sangat menyenangkan. Gak ada mual, gak ada muntah, dan dokter selalu mengatakan kondisi janin sehat & normal. Saya makin bahagia setelah hasil USG menunjukkan anak saya laki-laki, seperti harapan saya sejak dulu yang gak punya saudara laki-laki. Meski tidak sibuk bekerja tapi saya tetap aktif jalan-jalan. Saya & suami sempat liburan ke pantai Batu Karas di usia kehamilan 4 bulan & ke Bali di usia kehamilan 6 bulan.

Foto beberapa hari sebelum melahirkan

Semua berjalan sangat baik sampai tiba waktunya melahirkan. Karena HPL menjelang Idul Fitri, saya dan suami memutuskan untuk melahirkan di bidan dekat rumah orangtua suami. Kami kemudian memilih klinik Bidan Pudji, bidan yang membantu kelahiran 5 anak ibu mertua termasuk suami saya. Hanya 2x periksa sebelum melahirkan, saya melahirkan secara normal dibantu oleh Bu Bidan & satu asistennya. Kelana lahir dalam kondisi sehat, berat badan 3,6kg & panjang 50cm. Ia  menjadi hadiah Lebaran yang paling indah. Seluruh keluarga saya berkumpul di Bandung. Semua bahagia menyambut anggota keluarga baru.

Kelana berusia 3 hari

Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Begitu Kelana lahir, Bidan langsung membimbing untuk IMD. Masalahnya saya memiliki flat nipple dan selama hamil saya gak notice. Flat nipple membuat bayi kesulitan meletakkan mulutnya & menghisap ASI. Asisten Bidan membantu membuatkan alat penghisap seperti mainan suntikan.

Selang 1 malam kami pulang dari klinik. Untuk sementara kami tinggal di rumah orangtua suami supaya banyak yang membantu mengurus Kelana & juga sekalian merayakan Idul Fitri bareng. Selama 1 mingu pertama Ibu saya masih stay di Bandung menemani saya.

Cerita begadang di minggu-minggu pertama menjadi orangtua baru sudah biasa saya dengar, tapi perjuangan memberi ASI benar-benar belum saya siapkan sebelumnya. Menghadapi bayi yang sedikit-sedikit bangun minta nyusu, baru ditaro di kasur & ibunya tarik selimut eh bangun lagi sudah cukup melelahkan, tapi ini ditambah rasa sakit luar biasa karena nipple yang luka sampai becucuran darah saat bayi menyusu. Saya sampe migrain karena nahan teriak tiap menyusui, tapi saya ga menyerah demi cita-cita punya bayi lulus S3 ASI.

Sampe tidur dengan posisi duduk karena bayi ga mau lepas

Saya coba pakai nipple cream untuk mengobati lecet, tapi tiap lukanya sedikit mengering disusuin lagi jadi lecet lagi (Belakangan saya tahu dari dokter kalau obat terbaik mengolesinya dengan ASI, bukan dengan nipple cream atau semacamnya). Dicoba untuk gak disusuin dulu sebelah sampai lukanya sembuh, tapi saya malah mastitis alias radang. Rasanya luar biasa, panas dingin campur nyeri.

Saya makin down saat Kelana dibawa kontrol ke Bidan seminggu kemudian dan ternyata berat badannya gak naik, malah turun 2 ons. Penjelasan dari dokter dan bidan,  bayi baru lahir memang cenderung banyak kandungan airnya, jadi normal kalau di mingggu awal beratnya turun. Ok, saya merasa optimis kembali.

Minggu kedua kondisi ga semakin membaik. Luka nipple makin parah, bahkan kliatan terpotong sampe saya sebut mulut Pacman yang menganga (maaf kalau geleuh, tapi kenyataannya memang begitu :(). Kelana kelihatan makin kurus, padahal terus terusan menyusu. Dokter menyarankan untuk memerah & memberi ASI dengan pipet dengan jumlah & jadwal teratur. Di sinilah saya sadar kalau ternyata ASI saya sangat sedikit. Semenjak  mastitis berlanjut dengan diare, jumlah ASI saya berkurang drastis.

Saya makin khawatir karena Kelana gak p**p selama seminggu. Dia bisa p**p setelah dibawa ke dokter & dipancing dengan cairan yang disuntikan lewat anus. Dokter bilang kadang ada kondisi bayi gak poop sampai 2 minggu karena nutrisi ASI diserap sepenuhnya, yang penting tetap pipis teratur.

Segala usaha saya coba mulai pijat paraji, konsultasi ke beberapa dokter & konsultan laktasi, minum suplemen & booster,  gak berhenti makan sampe kembung. Makanan yang awalnya saya ga doyan pun saya makan, daun katuk rebus sampe saya gadoin. Saya tetap pegang cita-cita awal: Kelana lulus sarjana S3 ASI, no sufor. Karena takut bayi kuning saya sampe minta donor beberapa botol ASIP ke teman, dengan harapan cukup donor sekali sampai ASI saya banyak.

Hasil diagnosa dokter katanya saya strees. Saya gak memungkiri stress sudah saya rasakan semenjak hamil, karena perbedaan kondisi dari perempuan single pekerja di Jakarta jadi Ibu rumah tangga di kota lain. Saya merasa kehilangan rutinitas yang menyenangkan, ga punya teman, gak punya penghasilan. Saya gak bisa menerima kenyataan, termasuk kenyataan bahwa ASI saya ga mencukupi kebutuhan nutrisi Kelana.

Tinggal di rumah mertua yang saya belum terlalu dekat juga menjadi tekanan tersendiri. Saya jadi sensi, niat baik aja bisa bikin saya berfikiran negatif. Segala macam alasan muncul untuk ninggalin rumah sampe suara berisik kendaraan & tukang tahu bulat aja bikin saya pengen kabur rasanya.

Keluarga sudah menyarankan pemberian sufor untuk Kelana, tapi saya tetap menolak sampe berat Kelana benar-benar turun drastis di minggu ke4, sampai 3,1 kg.  Saya makin tertekan saat ada komentar “kok beda, di foto pas baru lahir keliatan chubby”, bingung kalau mama minta dikirimin foto takut keliatan Kelana kurus. Tiap liat wajahnya yang tirus rasanya  mau nangis sekencang-kencangnya.

Setelah itu saya berfikir kok saya egois banget ya, pengen jadi ibu yang baik tapi malah nyiksa anak. Saya mulai berdamai dengan keadaan & memutuskan  memberi Kelana sufor untuk menambah nutrisi. Saya lupakan semua jargon-jargon anti sufor, saya lupakan kekhawatiran pandangan teman-teman yang pro ASI kepada saya nanti. Alhamdulillah berat badan Kelana perlahan mulai naik. Pokoknya saya tanamkan di pikiran analoginya kalau sayuran & buah sedang langka ya ga ada salahnya deh makan junk food daripada kelaparan.

Saya jadi Ibu pro sufor? engga kok. Saya masih setuju bahwa ASI adalah nutrisi terbaik untuk bayi. 2 tahun saya pernah jadi freelancer memegang brand susu bayi & anak, yang juga memproduksi sufor yang dikonsumsi Kelana saat ini, saya paham betul bahwa WHO bahkan sudah mengeluarkan WHO Code yang melarang segala bentuk promosi susu formula untuk anak di bawah 1 tahun. Hanya dokter yang boleh menyarankan pemberian sufor, itu pun harus memiliki alasan kuat seperti kondisi ASI ibu yang kurang.

Pun saya masih berusaha menyusui semaksimal mungkin sampai sekarang, tapi kejadian-demi kejadian tersebut membuat saya lebih toleran dan tenggang rasa dengan diri saya sendiri dan sesama Ibu lainnya. Saya yakin semua Ibu ingin memberi yang terbaik untuk anaknya. Tapi ukuran Ibu yang baik itu seperti apa sih?

Cerita perdebatan Ibu bekerja VS Ibu Rumah Tangga, ASI Eksklusif VS Sufor, lahiran normal VS Cesar masih belum basi sampai saat ini. Semua kembali ke pilihan masing-masing, tergantung kemampuan & kapasitas diri. Yang saya sayangkan, pilihan tersebut kemudian membuat seseorang jadi merasa lebih dari orang lain yang berbeda darinya.

Masih segar di ingatan saya saat 4 tahun lalu baru megang brand susu yang sebelumnya saya sebut. Saya sempat mempromosikan FB page produk susu yang saya maintain di group WA berisi teman-teman yang sebagian sudah menjadi Ibu. Jawaban yang saya dapat adalah “Lo gak salah Ry promoin *** di sini? Di sini kan isinya Pro ASI semua”. Kemudian saya jelaskan bahwa page yang saya pegang isinya bukan kampanye sufor dan brand sudah menjalankan WHO Code tentang larangan promosi Sufor.

Munculnya banyak komunitas dan group pro ASI sangat positif menurut saya, mereka bisa jadi wadah sharing, edukasi, & motivasi. Tapi lama kelamaan kok saya merasa banyak oknum yang jadi cenderung “Galak” dan menghakimi. Pernah saya lihat postingan teman laki-laki di facebook sedang memberi susu lewat dot ke bayinya, postingannya langsung banjir komen memojokkan “Gak dikasi ASI?” “Kok bayinya dikasih dot?”

Saling nyinyir antara Working mom & Stay at home mom juga ga ada habisnya. Saya sekarang kembali kerja ya karena butuh, butuh aktualiasasi diri di luar rumah & butuh income juga. Saya gak bisa menjanjikan kalau diam di rumah saya bisa jadi Ibu lebih baik dari saat ini, bisa jadi saya makin stress & sensi dan berakibat buruknya terhadap sikap saya kepada anak. Ini untuk saya pribadi lho ya, bagi Ibu lain yang merasa suami sudah cukup menafkahi keluarga & lebih merasa happy di rumah ya monggo, silahkan.

Dulu saya amaze dengan Ibu-ibu yang memamerkan stock ASIP yang penuh satu freezer, saya sering tanya ke teman yang mau atau baru lahiran “Normal atau Cesar?”, saya sangat terpengaruh dengan content per-Ibu-an di social media. Sekarang saya merasa semua ga terlalu penting. Mau ada yang pamer ASI satu container ya silakan, itu rejeki mereka. Saya ga perlu sedih karena meski ASI sedikit saya masih bisa memberi kasih sayang dalam bentuk lain. Mau lahiran normal atau cesar, Ibu tetaplah Ibu. Saya ga habis pikir ada orang yang bilang “Untuk jadi Ibu seutuhnya harus lahiran normal”, sembarangan wong saya dengar cerita teman-teman yang cesar sama juga kok merasa sakit, lagian kalau kondisi medis gak memungkinkan untuk lahir normal kita bisa apa?

Bahkan timeline IG Mbak penyanyi inisial A yang bikin heboh karena dianggap lebay & unrealistic juga cukup saya tanggapi “Bodo amat ah, ga ngaruh sama hidup gw”. Yang positif bisa kita jadikan motivasi & inspirasi, kalau ada yang nyinyir anggap aja angin lalu. Misal working mom nyinyir sama Stay at home mom, anggap aja sirik karena waktunya sama anak ga sebanyak mereka, sebaliknya kalau stay at home mom nyinyir sama working mom, anggep aja sirik karena kurang aktualisasi diri di luar rumah jadi cari perhatian hehehee. Intinya mah yang nyinyir cuekin karena dipikirin juga ga ada bayarannya 😛

Jadi Ibu bukan ajang kompetisi, tapi sesuatu yang harus kita jalani dengan sepenuh hati. Saling memberi saran & motivasi sangat saya anjurkan, tapi kita harus sadar perjuangan & cobaan tiap Ibu berbeda-beda, kita ga perlu mengejar standar tertentu atau menghakimi Ibu lain yang mempunyai standar beda sama kita.

Jadi, Ibu yang baik itu yang seperti apa? Menurut saya, Ibu yang baik adalah Ibu yang bahagia, yang bisa membahagiakan keluarga dan membesarkan anak jadi pribadi yang bisa membahagiakan orang lain.

Trekking Trip Pertama Kelana

Dari jauh sebelum nikah udah cita-cita banget pengen bawa bocah hiking pake baby carrier Deuter Kid Comfort. Akhirnya kesampean juga beli di usia Kelana hampir 8 bulan. Nakbayik happy banget waktu nyoba pake gendongannya di rumah.

Tanpa nunggu lama-lama, langsung rencanain trip weekend itu juga. Kebetulan nakbayik udah bisa duduk sendiri, jadi udah memenuhi syarat untuk pake baby carriernya.

Pengennya sih langsung naik gunung beneran, tapi buat latihan kita coba trekking di track yang ga terlalu panjang & bukan alam liar banget supaya gampang antisipasi kalau bayi rewel atau ada kejadian ga diinginkan. Terpilihlah Taman Hutan Raya Djuanda untuk tujuan trekking pertama kita.

Malam minggu udah siapin barang-barang apa aja yang mau dibawa supaya bisa berangkat subuh karena jam3 sore si Yayah ada undangan acara di TSM. Diapers, tissue, baju ganti, susu, alat makan, & cemilan semua muat di bagian bawah baby carrier. Mainan & topi saya ikat pakai pita yang dikaitkan ke baby carrier & disimpan di kantong samping. Kok pake diikat segala? Supaya ga ilang karena nakbayik lagi hobi lempar-lempar barang 😁😁

Minggu pagi, boro-boro berangkat subuh, alarm kita cuekin semua. Mendekati jam6 Bubu baru bangun & memutuskan masakin sarapan & mandiin nakbayik dulu. Sambil ngantuk karena dibangunin paksa, nakbayik sarapan & mandi di kamar mandi darurat, bak cuci piring 😅😅


Jam 7 pagi kita siap berangkat. Alhamulillah lalu lintas bersahabat, sebelum jam 8 kita udah sampe di gerbang Tahura.


Petualangan dimulai. Target awal trekking sampai air terjun Maribaya, tapi karena ngejar waktu jam3 di TSM kita putuskan cukup sampai penangkaran rusa. Jarak dari pintu gerbang ke penangkaran rusa kira-kira 3km.

 

Nakbayik happy & ketawa-ketawa riang, apalagi kalau dibawa bercanda lari-lari kecil atau gerakan naik turun. Sampai depan goa Belanda kita istirahat sebentar sambil ngemil di warung. Nakbayik anteng lihat aksi kera makan jagung yang dilempar pengunjung.

Perjalanan dilanjut muter lewat bukit, kalau mau lewat goa bisa hemat waktu sih tapi karena udah diwanti-wanti si nenek jangan bawa bayi masuk goa jadi kita pilih muter aja.

 

Wefie, nakbayik ikutan sadar kamera :))

Jam 9:30 sudah sampai belokan penangkaran rusa, tapi nakbayik mulai ngantuk karena memang jamnya tidur. Untungnya gak rewel, cuma lebih anteng & tiba-tiba ketiduran.

 

 

Sampai di penangkaran pas jam makan rusa, jadi bisa lihat rusanya dari dekat deh. Kalau bukan jam makan rusa pengunjung bisa beli wortel untuk memancing rusa ke pinggir, harganya Rp 5,000 aja perplastik

 

 

Awalnya nakbayik kaget kebangun karena suara rusa. Sempet nangis beberapa detik tapi langsung ketawa lagi setelah diayun-ayun  ke atas (gampang banget dirayunya hehe). langsung excited liat rusanya dari deket.

 

Jam 10:30 kita siap-siap turun. Nakbayik masih ngantuk berat,  tidur sepanjang perjalanan. Awalnya sih mau lewat jalan muter lagi tapi karena agak gerimis kita lewat goa aja. Cuma 45 menit perjalanan tanpa berhenti kita sampai di pintu keluar.

 

Tidur pulas sepanjang perjalanan

Trek di Tahura sudah dilengkapi paving block (meski banyak yang rusak jadi becek juga), jalannya ga terlalu nanjak & ada warung di beberapa titik jadi cocok banget untuk family trip. Selain trekking, banyak juga yang memilih bersepeda. Warung-warung menyediakan minuman hangat, gorengan, jagung bakar, sampai colenak.

Bagi yang biasa naik gunung atau wisata alam ke luar negeri mungkin pemandangan di Tahura kelihatan biasa aja, tapi lumayan kok untuk olahraga dan mendekatkan anak-anak dengan alam. Kita bisa mengenalkan aneka jenis pohon, ada beberapa binatang seperti kera & rusa, juga melewati sungai dan air terjun (kalau sampai ke Maribaya). Dekat pintu masuk ada taman bermain di pinggir danau. Oh dan jangan lupa juga, Tahura juga bisa mengajarkan tentang sejarah karena ada Goa Jepang, Goa Belanda, & Museum Djuanda.

Dengan tiket Rp 10,000 perorang, worth it benget menurut saya 🙂

 

Hi, Aku Kembali

Akhirnyaa, setelah domain mati tapi ga keburu urus karena pas banget lahiran, tulisan selama setahun ilang semua karena ga bayar hosting, aku kembali dengan nama domain baru. Domain uryceriadotnet udah dipake sama tukang obat China T.T

Keliling Jepang dengan JR Pass

Salah satu daya tarik Jepang bagi saya adalah sarana transportasinya, terutama si kereta peluru super cepat Shinkansen. Sebagian besar jalur transportasi di Jepang dikelola perusahaan negara Japan Railway alias JR. Bukan cuma kereta lokal & kereta antar perfektur, mereka juga mengoperasikan bus & kapal feri.

Untuk memudahkan turis jalan-jalan di Jepang, JR menyediakan layanan Japan Railpass yang cuma bisa dibeli oleh orang asing dari luar Jepang. Nah kebetulan udah cita-cita pengen naik Shinkansen dan dihitung biaya transportasi jadi bisa dihemat, saya & suami memutuskan membeli JR Pass.

Dengan harga JPY 29.000 alias sekira Rp 3,2jt Perorang, kita bisa naik seluruh armada JR selama 7 hari kecuali Shin Mizuho & Shin Nozomi. Gak tau sih perbedaan kedua Shinkansen ini apa dibanding Shinkansen lain, tapi yang jelas kalau mau naik Shinkansen ini kita harus bayar paketan yang lebih mahal. Selain paket 7 hari, tersedia juga paket 10 hari & 30 hari.

JR Pass bisa dibeli di banyak travel agent di Indonesia. Karena mager, saya pesan online di salah satu website penjualan tiket kereta berbagai negara, bukti pembelian diantar ke kantor dengan sistem COD untuk dibawa & ditukar dengan Railpass setibanya di Jepang.

Pagi setelah menginap di Bandara Haneda, kami langsung menuju loket penukaran JR Pass di stasiun monorail untuk melanjutkan perjalanan ke pusat kota Tokyo 

image

Dengan JR Pass kita ga perlu beli tiket saat mau naik kereta, tinggal jalan lewat depan loket &

tunjukkan JR Pass kita ke petugas semacam customer service yang biasanya melayani penjualan kartu berlanggananan dll. JR Pass cuma bisa dicetak satu kali, jadi kalau ilang ya udah cuma bisa ikhlas

Suasana dalam kereta di malam Halloween, penuh anak muda berkostum jadi kita ikutan meski cuma pake topeng 100 Yen 😀

Ga perlu khawatir nyasar naik kereta di Jepang, karena stasiunnya canggih-canggih, dilengkapi LCD petunjuk yang jelas tentang info jadwal kereta & peron.  Tapi kita pernah salah kereta juga sih di Osaka karena gak tau ada kereta Rapid & lokal. karena tujuan kita cuma stasiun kecil, harusnya kita naik Osaka Loop Line local, eh malah naik rapid jadi kelewat. Pake Google Maps ngebantu banget buat cari jalur kereta (dibanding lieur liat peta cetak). 

Sebelah kiri itu logo perusahaan transportasinya, sebisa mungkin cari jalur yang logonya JR semua, biar bisa pake JR Pass

Untuk Shinkansen & kereta cepat Thunderbird, karena sistem duduknya dengan nomor, kita harus book tiket dulu di counter penjualan tiket Shinkansen. Tiket Shinkansen hanya bisa dipesan untuk perjalanan hari itu juga.

Kayaknya sih Orang Jepang punya kebiasaan silent di kereta Shinkansen, jadi saya juga ikutan bisik-bisik pas ngobrol supaya gak dicap turis gengges. kebiasaan lain adalah bawa bekal Bento. Di stasiun banyak toko yang menjual Bento yang bisa kita nikmati di kereta. 

Jarak Tokyo Osaka kira-kira 500KM (sama kaya ke Jakarta ke Jogja) dan bisa ditempuh 2,5 jam dengan Shinkansen. Harga tiket JPY 14.450 (sekira 1,5juta rupiah). Sempet kepikiran, kalau ada Shinkasen Jkt-Bandung saya bisa kerja di Jkt PP setiap hari, tapi kayanya gajinya ga cukup buat bayar kereta aja :))

JR Pass sangat disarankan buat traveler yang itinerarynya pindah kota, karena kita bisa naik Shinkansen sepuasnya. Buat yang cuma mau jalan-jalan di satu kota, kayaknya sih cukkup beli tiket eceran. Biaya sekali perjalanan kereta lokal sekira JPY 200-JPY 300.

Menginap di Bandara Haneda Tokyo

Supaya hemat waktu & biaya Hotel, saya selalu pesan penerbangan yang sampainya pagi & pulangnya malam. Tapi dasar low cot carrier, tiket promo pula, menjelang hari H fligh saya & suami dari KL ke Haneda digeser dari pukul 1 dinihari jadi pukul 14:30.

Hotel sudah dipesan dari tanggal 26 Oktober 2015 karena rencananya kami sampai Jepang 26 OKtober pagi. Karena sampainya jadi tengah maalam, dipikir-pikir kok sayang yah 10rb Yen cuma buat nginap sebentar, belum lagi mempertimbangkan biaya taxi yang gosip mahalnya udah bikin jiper duluan. Monorail & Kereta sebentar lagi tutup, JR Pass belum ditukar, ah ribet deh pokoknya kalau harus ke kota

AKhirnya kami (eh saya sendiri sih) membuat keputusan sepihak untuk nginep di Bandara  aja, hotel saya cancel H-seminggu. Toh teman-teman banyak kok yang pernah nginap juga di Haneda, dan baca-baca beberapa blog katanya Haneda nyaman buat nginep. Suami sih males-malesan & kekeuh mau cari Hotel lagi, tapi perempuan kan selalu benar :p

Sampai di Haneda pukul 22:30, langsung melewati lorong masuk ke terminal kedatangan. Hal pertama yang kita lakukan pastilah ke toilet. Terbuktikanlan cerita toilet Jepang yang canggih itu. Kalau toilet Indonesia cuma punya tombol flush, toilet Jepang ada tombol flush manual, flush otomatis, penghangat dudukan, shower depan & belakang, bahkan tombol sound effect gemericik air & tombol-tombol lainnya yang saya gak ngerti.

Beres urusan toilet kita langsung menuju bagian imigrasi, isi form kedatangan seperti biasa, kemudian antri. Petugas imigrasi Jepang ramah-ramah banget, senyumnya lebar-lebar meski udah tengah malam. Di counter saya cuma ditanya “Mau ke mana aja, sama siapa, suaminya yang mana?”

Setelah lewat pemeriksaan, sampailah kita di ruang tunggu kedatangan lantai 2F. Di sini ada money changer jadi kita tukar uang dulu. setelah itu bingung deh tempat yang buat tidur di mana yaaa? di lantai 1 ada kursi-kursi panjang sih tapi disekelilingnya tempat orang mondar-mandir & depannya ada lift jadi agak kurang nyaman.

Karena takut nyasar di Bandara segede gitu, saya browsing dulu di mana tempat yang nyaman buat tidur. beberapa blogger menyarankan di Lantai 4 dekat observatorium deck. Oke lah, kami langsung naik pakai eskalator. Area 3F adalah terminal keberangkatan & check in counter. di dekat tangga ada beberapa jajaran kursi panjang & tempat charger juga pC untuk browsing. Di sini juga kita bisa menemukan Airport Map berbentuk buku dengan info lengkap banget

Area 4F area restoran, desainnya dibuat seperti jalanan di kota. Karena sudah malam restonya udah pada tutup

Sampai di Area 5F, saya langsung ambil posisi di kursi bundar depan observation deck. di sini ada pintu menuju observation deck & kanan kirinya ada tempat yang dikasi nama “Cold Area” & “Hot Area” ga ngerti juga sih fungsinya apa hehee. si Hot Area lagi dalam proses renovasi & di depannya ada petugas yang berdiri mengawasi ke arah tempat duduk. Kebanyang berdiri begitu sepanjang malam, tapi nanamnya juga orang jepang penuh dedikasi. Tengah malam sampai subuh ga ada flight, jadi bandara sepi kecuali sama backsound eskalator mbak-mbak Jepang yang gengges banget diulang-ulang terus :))

Gak lama saya sudah mulai tertidur, sementara suami bolak-balik ke observatorium deck, cari jajan, cari colokan. Belum 2 jam tidur, tiba-tiba suara bor menggema dari proyek di Hot Area, saya langsung kebangun ga bisa tidur lagi. AKhiirnya kita beranjak untuk cari tempat lain. sudah nemu tempat pewe & sepi di pojokan 1F dekat jalur bus, tapi suami bawel banget pengen deket-deket tempat ngecharge aja. Jadinya kita balik lagi ke 3F. suami ambil posisi di kursi depan charger & ada satu kursi panjang berisi 1 tas punya orang, langsung saya ambil alih aja buat tidur selonjoran, mumpung orangnya lagi sibuk ngecharge hehe

Menjelang pukul 05:00 bandara mulai ramai dengan calon penumpang flight pagi. Suara derap kaki terburu-buru, roda koper, & speaker informasi jadi satu. saya langsung kebangun saking ramenya. keliahatan deh pemandangan orang Jepang yang setelannya keren-keren, bikin kita berdua keliatan turis gembel banget :p

Selelah muter ke 1F buat jajan di Lawson, kita kembali lagi ke 5F.Sempet liat-liat ke observation deck. di sini ada teropong juga yang bisa digunakan dengan tarif JPY 100. Ga lama di observation deck saya udah kedinginan kena udara pagi musim gugur yang suhunya di bawah 15 derajat celcius

Pemandangan dari Observation Deck

Sekarang giliran suami yang tidur sambil nunggu counter JR buka pukul 08:30. Gantian saya membersihkan diri di toilet & ngecharge hp + laptop sambil Wifi-an. Wifi di Haneda lumayan kenceng kok, cuma tinggal login lewat facebook. Oiya katanya sih ada kamar mandi umum buat mandi, tarifnya JPY 1000 untuk 30 meniit.Karena mahal & toh dingin juga, jadi saya ga nyari tuh emang ga niat mandi hehe

Dari Bandara kita langung menuju kota & gak langsung ke hotel, tapi jalan-jalan dulu sambil nunggu check in dengan tas besar & badan asem belum mandi. Harus diakui, nginap di bandara bikin kita agak meriang. meski udah biasa nginap di tenda, pernah juga di emperan toko waktu di Ijen, tetep aja udara alam masih lebih bersahabat dibanding udara dalam gedung megah sekalipun kalau tempat tidurnya gak proper